Ticker

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Tan Sri Sanusi Junid, Tokoh Malaysia Kelahiran Kampung Yan Kedah, Lebih Aceh daripada Aceh


Tan Sri Sanusi Junid



ACEH - Sanusi Junid atau lengkapnya Y.B. Tan Sri Dato' Seri Sanusi Junid (lahir di Yan, Kedah, Malaysia, 10 Juli 1943) adalah salah satu tokoh berdarah Aceh yang meraih sukses di Malaysia.

Selain Tan Sri Sanusi Junid, terdapat juga nama Tan Sri Hanafiah bin Hussain yang juga berasal dari Yan Kedah.

Tan Sri Hanafiah lahir di Yan Kedah 16 April 1927, merupakan anak keempat dari delapan bersaudara buah hati pasangan Nyak Hussain Nyak Ahmad dan Nyak Siti Hawa Nyak Hasan.

Tan Sri Hanafiah yang dikurniai tiga orang anak ini dikenal sebagai akuntan Melayu pertama yang bersertifikat.

Di Yan ini terdapat satu kawasan tempat bermukimnya para keturunan Aceh yang dikenal dengan nama Kampung Acheh di Yan.

Sebelum era dua Tan Sri asal Kampung Yan Keudah, seorang putra Aceh juga bergelar Tan Sri di Malaysia. 

Dialah sang legenda seniman Melayu, Tan Sri P Ramlee alias Ramli Bin Puteh.

P. Ramlee atau nama sebenarnya Teuku Zakaria bin Teuku Nyak Puteh adalah seorang aktor Malaysia pada tahun 1950-an.

Ayahnya berasal dari Lhokseumawe yang menikahi Che Mah Hussein pada tahun 1925 di Kubang Buaya, Butterworth, Malaysia.

Tapi kali ini kita akan membahas khusus tentang sosok Tan Sri Sanusi Junid. 

Karena beliau adalah satu di antara tokoh berdarah Aceh yang sangat peduli dengan Aceh dan bangsa Aceh yang berada di Malaysia, serta belahan negara lainnya di dunia.

Hal ini bisa dibuktikan dari kesediaannya menjadi Presiden The Aceh Club (Sebuah Badan perkumpulan masyarakat Aceh di seluruh dunia), serta Presiden Ikatan Masyarakat Acheh Malaysia (IMAM).

Kedua jabatan paguyuban masyarakat Aceh itu diembannya di sela-sela kesibukannya dengan berbagai aktivitas sebagai salah satu pejabat tinggi di Kerajaan Malaysia.

Banyak orang Aceh di Malaysia membagi kisah, meski lahir, besar, dan memiliki karir cemerlang di Malaysia, Tan Sri Sanusi Junid, lebih Aceh daripada orang Aceh itu sendiri.

Seperti diketahui, semasa hidupnya Tan Sri Sanusi Junid, sangat dekat dengan Mahathir Mohamad, orang kuat Malaysia yang lebih dari 22 tahun menjabat sebagai Perdana Menteri.

Baca juga: Mahathir Mohamad Merasa Sedih dan Kesunyian, Satu Per Satu Sahabatnya Meninggal Dunia

BACA: Catatan dari Malaysia, Koperasi Masa, Datuk Mansyur, Hingga Kisah Tiga Diaspora Aceh Beda Generasi

Meninggal di Usia 74 Tahun

Tan Sri Sanusi Junid dipanggil Allah menghadap Sang Pencipta dalam usia 74 tahun saat menjelang shalat Subuh, Jumat (9/3/2018) di rumahnya kawasan Bukit Pantai, Kuala Lumpur, Malaysia.

Jenazahnya dishalatkan oleh sekitar 3.000 jamaah di Masjid Saydina Umar Bukit Damansara Kuala Lumpur, dan dimakamkan di Bukit Kiara Kuala Lumpur.

Pria berdarah Aceh ini adalah bankir yang kemudian beralih menjadi  politikus, bahkan salah satu politikus ternama di Malaysia.

Istrinya pun YABhg Puan Sri Datin Seri Inangda Manyam Keumala juga keturunan Aceh.

Orang-orang Aceh perantau di Malaysia  menyebutnya sebagai "imam" juga "pelindung orang Aceh" di negeri jiran itu.

"Innalillahi wainnailaihi rajiun. Dia tokoh karismatik pengayom masyarakat Aceh di Malaysia," kata Dr Wildan Abdullah, Wakil Rektor I ISBI Jantho, Aceh Besar yang meraih gelar doktor di bidang sastra di Malaysia.

Baca juga: Dari Samadiyah Hingga 100 Hari, Ini Rangkaian Kenduri dan Doa untuk Almarhum dalam Tradisi Aceh

Berawal dari Kampung Yan

Di Malaysia, ada satu kampung yang dijuluki "Kampung Aceh", itulah Kampung Yan di Kedah.

Di sini bukan saja banyak terdapat orang Aceh, bahkan sebagian indatu (nenek moyang) orang Aceh pun menetap sejak berabad silam di sini.

Termasuk orang tua Sanusi Junid.

Ia dilahirkan pada 10 Juli 1943 di Kampung Yan, Kedah.

Nama Tan Sri Sanusi Junid sangat terkenal di kalangan komunitas Aceh di Malaysia.

Ia disebut-sebut sebagai sosok yang sangat peduli dengan nasib anak-anak Aceh, terutama yang sedang menuntut ilmu di negeri jiran.

"Meski lahir, besar, dan menjadi pembesar di Malaysia, Tan Sri (Sanusi Junid) sangat kental keacehannya dan sangat dekat dengan orang Aceh," ungkap Jafar Insya Reubee, anggota Komunitas Aceh asal Pidie, mengenang sosok Sanusi Junid.

Jafar mengaku beberapa kali hadir dalam pertemuan komunitas Aceh yang dihadiri langsung oleh almarhum Sanusi Junid.

Ia mengirimkan satu foto ketika menemani Anggota DPRA (Periode 2014-2019) Tgk Ridwan Abubakar bertemu Tan Sri Sanusi Junid, di kantor perusahaan miliknya, Seulawah Holding Sdn Bhd.

Baca juga: Seulawah Agam

Kantor Seulawah Holding ini berada di lantai 3A Bangunan Plaza Mont’ Kiara, Kuala Lumpur.

Jafar Insya bercerita, Kantor Tan Sri Sanusi sangat khas Aceh, bukan dari segi arsitekturnya, tetapi dari aspek interiornya.

Di dinding bagian luar dan dalam terdapat tulisan “SeULAWAH” dalam huruf kapital berwarna hijau yang cukup mencolok.

Dari kiri ke kanan, Tgk Fathurrachman, Jafar Insya Reubee, Tan Sri Sanusi Junid, dan Tgk Ridwan Abubakar (Nek Tu), dalam sebuah kesempatan di ruang kerja Tan Sri Sanusi, Kantor Seulawah Holding Sdn Bhd, Malaysia, 15 November 2015. (Foto kiriman Jafar Insya Reubee)

Kantor Tan Sri ini sangat kontras dengan nama pada bagian mana pun dari bangunan Mont’ Kiara yang lebih banyak bernuansa Inggris.

Jafar Insya juga bercerita bagaimana para mahasiswa Aceh di Malaysia, terutama yang kuliah di UIA, sangat kehilangan Tan Sri Sanusi.

"Saya mendengar kisah mahasiswa di Universiti Islam Antarabangsa (UIA) Malaysia, mereka mendapat banyak beasiswa ketika Tan Sri menjadi Presiden UIA," kata Jafar Insya.

Baca juga: Keuneunong, Peusijuek, dan Rapai Bubee, Tiga Budaya Aceh Ditetapkan Sebagai Warisan Budaya Nasional

Berdasarkan biodata Sanusi Junid yang dikirim kan Presiden Komunitas Aceh di Malaysia, Datuk Mansyur bin Usman kepada Serambinews.com, tergambar bahwa Sanusi adalah sosok yang sangat terpelajar.

Dia bahkan menuntut ilmu hingga ke Inggris dan Jerman.

Baca juga: Jejak Jokowi di Aceh, Hingga Bupati Bener Meriah Abuya Sarkawi Usulkan Pembangunan Museum

Berikut riwayat pendidikan serta karier sosial dan politiknya yang cemerlang:

* 1949 (umur 6): Belajar di Sekolah Melayu Yan (1949-53).

* 1954 (umur 11): Belajar di Sekolah Menengah Ibrahim, Sungai Petani (1954-56).

* 1957 (umur 14): Mahasiswa di Malay College Kuala Kangsar (MCKK).

* 1963 (umur 20): Memulai karier sebagai pegawai di Chartered Bank, Seremban dan menjadi anggota UMNO Seremban.

* 1964 (umur 21): Dilantik sebagai Setiausaha Pemuda UMNO Cabang Seremban.

* 1966 (umur 23): Dilantik sebagai Bendahari UMNO Bagian Seremban Timur.

* 1967 (umur 24): Dilantik sebagai Ketua Penerangan UMNO Bagian Seremban Timur dan Setiausaha UMNO Bagian Seremban Timur.

* 1969 (umur 26): Melanjutkan pendidikan di Institute of Bankers London, City of London College dan Institute of Export London; kemudiannya, memperolehi Sijil dalam Dagangan Asing dan Pertukaran Asing di London University dan selepas itu, menuntut di Berlitz School of Language, Jerman; juga dilantik sebagai Ketua Penerangan Kelab Perikatan London.

* 1971 (umur 28): Dilantik sebagai Pengurus Kanan Pinjaman Chartered Bank, Kuala Lumpur dan Setiausaha Agung Koperasi Shamelin.

* 1973 (umur 30): Dilantik sebagai anggota Majelis Perundingan Belia Negara, anggota Lembaga Felda, anggota Majelis Perundingan Negara Mengenai Latihan Perusahaan dan anggota Majelis Penasihat Kebangsaan Pelindung Pengguna.

* 1974 (umur 31): Dilantik sebagai anggota Parlemen Jerai, Kedah dan juga dilantik sebagai anggota Jawatankuasa Kira-kira Wang Negara.

* 1975 (umur 32): Menjadi Pengarah Bank Simpanan Nasional, Pengurus Bank Shamelin serta Pengerusi Syarikat Insan Diranto Bhd.; juga dilantik sebagai Timbalan Ketua UMNO Bagian Jerai.

* 1977 (umur 34): Dilantik sebagai Pengerusi Tugu Insurance Sdn. Bhd. dan Pengerusi Obanto Management Consultancy Sdn. Bhd.

* 1978 (umur 35): Dilantik sebagai Timbalan Menteri Tanah dan Kemajuan Wilayah (1978-80) serta Ketua Penerangan UMNO Kedah; juga menjadi anggota Jemaah Universiti Teknologi Mara.

* 1980 (umur 37): Dilantik sebagai Timbalan Menteri Dalam Negeri (1980-81).

* 1981 (umur 38): Dilantik sebagai Menteri Pembangunan Negara dan Luar Bandar (1981-86) serta Pengerusi Jawatankuasa Penerangan UMNO Malaysia, Pengerusi Biro Penerangan UMNO Malaysia dan anggota Majelis Tertinggi UMNO Malaysia; juga dilantik sebagai anggota Jawatankuasa Penyelarasan Pelaburan Bumiputera, anggota Majelis Tindakan Negara dan anggota Majelis Perancang Negara.

* 1982 (umur 39): Dilantik sebagai anggota Parlemen Kawasan Jerlun, Langkawi dan anggota Majelis Tertinggi UMNO Malaysia; juga dilantik sebagai anggota Penasihat Kobena dan anggota Majelis Universitas Malaya.

* 1983 (umur 40): Dilantik sebagai Pengerusi Jawatankuasa Hari Kebangsaan dan anggota Majelis Perdagangan Malaysia.

* 1984: Dilantik sebagai Setiausaha Agong UMNO Malaysia.

* 1986: Dilantik sebagai Menteri Pertanian serta Ketua Bagian Jerlun, Langkawi.

* 1990 (umur 47): Dilantik sebagai Wakil Presiden UMNO Malaysia.

* 1991 (umur 48): Dilantik sebagai Presiden Universiti Islam Antarabangsa.

* 1996 (umur 53): Dilantik sebagai Menteri Besar Kedah yang ketujuh (16 Jun 1996 - November 1999).

* 2000 (umur 57): Dilantik sebagai anggota Dewan Undangan Negeri Kawasan Kuah.

* Presiden The Aceh Club, Sebuah Badan perkumpulan masyarakat Aceh di seluruh dunia.

* Presiden Ikatan Masyarakat Acheh Malaysia (IMAM)

* Ketua Lembaga Persahabatan Malaysia-Indonesia PERMAI

* Pemimpin NGO Antarabangsa, Malaysia

* Presiden Universiti Islam Antarabangsa (UIA), Malaysia. (SerambiWiki/Yarmen Dinamika/Hendri Abik)

Artikel ini telah tayang di serambinews.com dengan judul Tan Sri Sanusi Junid, Bankir Berdarah Aceh yang Berjaya di Malaysia, Bermula dari Kampung Yan 

Penulis: Hendri Abik
Editor: Zainal M Noor
Sumber: Serambi Indonesia

Posting Komentar

0 Komentar