Ticker

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Cara Jepang 'genjot' Pertumbuhan Penduduk.

Angka kelahiran di Jepang yang terus menurun dalam beberapa tahun terakhir membuat pemerintah khawatir.

pict: Hipwee

Pemerintah Jepang menerapkan sejumlah kebijakan untuk mendorong laju pertumbuhan penduduk.

Penurunan angka kelahiran di Jepang secara berturut-turut terjadi dalam beberapa dekade ini.

Bahkan sepanjang tahun 2020, angka kelahiran di Jepang tercatat hanya kisaran 872.000 kelahiran saja. Bandingkan dengan Indonesia yang jumlah kelahirannya bisa mencapai 4-5 juta kelahiran per tahunnya.

Kekhawatiran pemerintah Jepang adalah terkait Penduduk Produktif (18-60 tahun).

Jumlah penduduk usia produktif terus berkurang, sebaliknya jumlah penduduk manula terus bertambah setiap tahunnya (aging population). Diproyeksikan pada tahun 2060, jumlah penduduk Jepang berkurang menjadi 87 juta orang saja dan 40% di antaranya berusia 65 tahun ke atas (tak produktif).

Kenapa Angka Kelahiran di Jepang Terus Menurun?

Salah satu penyebabnya adalah enggan mempunyai anak. Khawatir tidak mampu membiayai anak dengan baik, tak jarang pasangan di Jepang lebih memilih untuk memelihara anjing atau kucing untuk menemani masa tua mereka.

Ketidakpastian lapangan pekerjaan juga menjadi hambatan bagi para pria muda untuk menikah. Wanita juga cenderung menunda untuk menikah karena mengejar karier dan menunggu datangnya "babang berharta".

Strategi Pemerintah Jepang untuk Mengatasinya ?

Dalam beberapa tahun terakhir, pemerintah telah meluncurkan sejumlah insentif untuk mendorong pasangan muda menikah dan memiliki anak, di antaranya dengan :

Dukungan Dana Pernikahan

Sejak tahun 2018, sejumlah pemerintah daerah di Jepang memberikan subsidi dana pernikahan bagi pasangan muda di bawah umur 34 tahun. Subsidi ini diharapkan akan membantu pasangan muda yang ingin memulai hidup baru untuk membayar sewa rumah dan juga memenuhi kebutuhan sehari-hari di awal pernikahannya. Namun santunan ini tidak diberikan sembarangan, khususnya menyasar pasangan yang dipandang kurang mampu dengan penghasilan di bawah ¥ 3,4 juta (sekitar Rp 450 juta) per tahunnya. Kebijakan ini juga belum berlaku secara nasional dan baru diimplementasikan di 257 kota di Jepang.

Dukungan Dana Kesehatan

Karena banyak pasangan yang mengalami kesulitan untuk memiliki anak, pemerintah juga memberikan dukungan dana untuk keperluan program kehamilan seperti perawatan Vitro Fertilization dan Micro Fertilization. Hal ini dilakukan karena jenis perawatan ini umumnya tidak tercakup dalam asuransi kesehatan dan biayanya cukup besar.

Santunan Dana Melahirkan

Para calon Ibu di Jepang juga bisa mengajukan Childbirth and Childcare Lump-Sum Grant untuk membantu meringankan beban biaya melahirkan di Jepang yang cukup besar. Dana santunan ini dapat diberikan dengan beberapa persyaratan, seperti misalnya telah terdaftar dalam sistem asuransi (baik dari Pemerintah maupun perusahaan tempat bekerja) dan telah memasuki masa kehamilan lebih dari 85 hari.

Dana Tunjangan Anak

Dana tunjangan anak dapat diberikan kepada keluarga yang dianggap kurang mampu mulai dari anak tersebut lahir hingga berusia 12 tahun.

Pemberian Cuti Melahirkan (Maternity Leave) dan Cuti Mengurus Anak (Child Care Leave)

Hampir sama dengan Indonesia, jumlah cuti melahirkan di Jepang adalah 98 hari, 6 minggu sebelum, dan 8 minggu setelah melahirkan. Tidak hanya itu, mereka juga dapat mengajukan subsidi kepada Pemerintah jika perusahaan tidak membayarkan gajinya selama cuti. Di luar itu, orang tua yang baru memiliki anak juga dapat mengajukan cuti untuk mengurus anaknya (child care leave) dan masih berhak dibayarkan gajinya.

Penambahan Fasilitas Penitipan Anak

Penambahan fasilitas penitipan anak telah digalakkan terutama di kota-kota besar. Namun kendati sudah ditambahkan, masih belum dapat memenuhi kebutuhan. Untuk fasilitas penitipan anak yang disubsidi pemerintah daftar antreannya masih sangat panjang. Sementara untuk fasilitas penitipan swasta dengan biaya sendiri, harganya juga terbilang mahal.

Pemanfaatan Teknologi Artificial Intelligence sebagai Agen Perjodohan

Dan strategi yang terbaru, saat ini Jepang tengah mengembangkan artificial intelligence (teknologi AI) sebagai agen biro jodoh. Harapannya dengan memanfaatkan teknologi AI akan lebih mudah untuk mencari jodoh yang sesuai dengan keinginan.

Banyak sekali insentif yang diberikan Pemerintah Jepang untuk meningkatkan angka kelahiran penduduknya.

Insentif ini tidak hanya terbatas bagi warna negara Jepang saja, namun juga dapat diberikan bagi warna negara asing yang berdomisili di Jepang dengan beberapa persyaratan yang harus dipenuhi untuk mendapatkan fasilitas tersebut.

Semoga saja insentif-insentif yang diberikan ini akan semakin efektif mendorong laju pertumbuhan penduduk di Jepang ke depannya.

Artikel ini telah terbit di Kumparan.com dengan judul "Cara Unik Pemerintah Jepang Dorong Pertumbuhan Penduduknya"