Ticker

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Setelah Kudeta Negara, Militer Myanmar Tutup Perusahaan Media Massa.



Militer Myanmar mencabut izin opetasional terhadaplima perusahaan media di negara tersebut, Selasa (9/3). Hal itu dilakukan ketika militer tengah berusaha menumpas aksi demonstrasi menentang kudeta.

Lima media yang dicabut izinnya untuk menerbitkan atau menyiarkan berita adalah Mizzima Media, Myanmar Now, 7 Day, Khit Thit, dan Democratic Voice of Burma. Militer sempat menggeledah beberapa kantor media tersebut.

"Kami sekarang berada pada titik di mana melanjutkan pekerjaan kami berarti berisiko dipenjara atau dibunuh. Yang pasti adalah kami tidak akan berhenti meliput kejahatan besar yang telah dilakukan rezim di seluruh negeri," kata Pemimpin Redaksi Myanmar Now Swe Sin, dikutip laman United Press International.

Gelombang demonstrasi menentang kudeta militer di Myanmar masih berlangsung. Pada Senin (8/3), dan lebih dari 60 orang telah tewas dalam aksi protes menentang kudeta militer di Myanmar.

Sekitar 1.850 orang yang terlibat dalam unjuk rasa telah ditahan oleh aparat Mhanmar.

Human Rights Watch menyerukan junta militer Myanmar menyelidiki dan meminta pertanggungjawaban atas kematian Khin Maung Latt (58 tahun). Ia adalah politikus lokal di Yangon yang meninggal dalam tahanan polisi.

Kudeta dan penangkapan sejumlah tokoh yang dilancarkan oleh militer Myanmar merupakan bentuk respons atas dugaan kecurangan pemilu pada November tahun lalu. Dalam pemilu itu, NLD pimpinan Suu Kyi menang telak dengan mengamankan 396 dari 476 kursi parlemen yang tersedia. Itu merupakan kemenangan kedua NLD sejak berakhirnya pemerintahan militer di sana pada 2011.

Artikel ini telah tayang di Republika.co.id dengan judul "Militer Myanmar Tutup Lima Perusahaan Media Massa".