Ticker

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

5 Dugaan Penyebab Kapal Selam KRI Nanggala 402 Tenggelam

Bagian kapal KRI Nanggala 402 hasil citra Remotely Operated Vehicle (ROV) MV Swift Rescue ditunjukkan saat konferensi pers di Lanud I Gusti Ngurah Rai, Badung, Bali, Minggu (25/4). Foto: Fikri Yusuf/ANTARA FOTO


INFOACEHTIMUR.COM – Penyebab pasti tenggelamnya KRI Nanggala-402 hingga kini masih belum diketahui. TNI AL masih terus mengumpulkan data-data agar bisa mengungkap penyebab kapal selam buatan Jerman itu tenggelam.

Kemungkinan Pertama: KRI Nanggala Tenggelam karena Faktor Alam

Namun, salah satu kemungkinan yang diungkapkan adalah faktor alam. Faktor alam disebut memiliki peran besar dalam kecelakaan ini. Dari data terkini, di lokasi KRI Nanggala ada interval solitary wave atau lebih dikenal dengan arus bawah air yang tinggi.


Danseskoal Laksamana Muda TNI Iwan Isnurwanto mengatakan, satelit milik Jepang menangkap adanya ketebalan berbeda di bawah air pada saat KRI Nanggala menyelam di perairan Bali. Perbedaan sangat terlihat di perairan selatan Lombok dan utara Bali.

"Ini palung antara gunung dengan gunung, lalu gelombang kecepatannya 2 NM. Dan berapa untuk dayanya kurang lebih 2 jtua sampai 4 juta liter untuk airnya," kata Iwan.

"Jadi kalau misalnya kapal menyelam 13 meter terbawa otomatis turun tidak bisa diselamatkan lainnya, tak bisa melawan alam," lanjutnya.

Kemungkinan Kedua: KRI Nanggala Tenggelam karena Faktor Teknis

Salah satu kemungkinan tenggelamnya KRI Nanggala yang beberapa hari belakangan ini terus dibicarakan adalah black out atau mati daya listrik. Kondisi ini tentu sangat berbahaya bagi semua awak kapal.

Iwan yang juga pernah mengawaki KRI Nanggala pernah mengalami situasi black out. Saat itu, ia tengah beristirahat sekitar pukul 00.00 WIB. Tiba-tiba kapal gelap dan hanya tersisa lampu emergency saja.

"Apa yang terjadi, [bagian] belakang [kapal selam] langsung turun. Ini 45 derajat [kemiringannya], tidak sampai 10 detik [turun] sampai 90 meter. Sehingga bisa membayangkan bagaimana posisi black out saat itu padahal periscope deep," jelasnya.

Yang dilakukan komandan kapal dan komandan kamar mesin saat itu meminta semua awak untuk berpindah ke bagian depan kapal. Dengan kondisi gelap gulita tanpa listrik, di kedalaman laut, dan di malam hari, Iwan dan awak lainnya merangkak hingga ke depan bagian kapal.

Dengan cepat pula, kepala kamar mesin menemukan masalah yang membuat kapal selam mendadak black out. Ternyata masalahnya karena satu sikring yang mati.

"Apa masalahnya ada satu vius [sikring] yang putus. Padahal kita tidak tahu itu di mana tapi karena kecanggihan KKM saat itu langsung bisa diperbaiki," ujar dia.

Namun, kemungkinan kapal tenggelam karena black out masih terus diselidiki. Sebab ketika waktu kejadian, KRI Nanggala meminta izin menyelam pada pukul 03.00 WITA.

Sebelum meluncurkan torpedo, ada izin atau otorisasi yang harus didapat KRI Nanggala dari komando atas. Saat itulah kontak dengan seluruh awak kapal hilang.

"Sekarang gini. Kalau kita kena interval solitary wave, keadaan alam sudah dibawa arus, apa yang bisa kita laksanakan tidak ada yang mampu melakukan prosedur keselamatan apa pun," tuturnya.

"Dayanya [air yang menghantam kapal] 2-4 juta kubik. Mampukah melawan itu?" lanjutnya.

Saat itu, semua awak kapal selam tengah bersiap melakukan peluncuran kapal selam. Artinya semua sudah siap dengan posisi tempur sesuai dengan tugas yang telah ditentukan.

"Kalau dia bergerak begini [terhantam interval solitary wave] bagaimana posisi anak-anak ini gelundung semua pak pasti terbawa sini," kata Iwan.

"Jadi kalau misalnya kapal menyelam 13 meter terbawa otomatis turun tidak bisa diselamatkan lainnya, tak bisa melawan alam," tutur dia.

TNI AL Bantah KRI Nanggala Ditembak Kapal Asing

TNI AL juga menjawab dugaan masyarakat yang menyebut KRI Nanggala ditembak oleh kapal asing. Arsena KSAL Laksamana Muda TNI Muhammad Ali mengatakan dugaan itu berlebihan.

"[KRI Nanggala ditembak] kapal asing ini saya rasa berlebihan kemudian [disebut] ditembak oleh kapal asinglah," kata Ali.

Sebab jika KRI Nanggala ditembak oleh kapal asing, maka suara ledakan akan terdengar oleh sonar. Bahkan terlihat oleh mata telanjang air laut sedikit naik sebagai efek dari ledakan tersebut.

"Jadi tidak ada ledakan pada saat kejadian itu dari pengamatan kapal yang ikut dalam latihan bersama KRI Nanggala kemarin," ujarnya.

Menanggapi Ali, Iwan menjelaskan terkait apakah kapal perang dunia boleh melintasi perairan Indonesia. 

Ia mengatakan, seluruh kapal perang dunia yang akan memasuki perairan Indonesia akan melapor. Meski laporan tidak dilakukan setiap hari.

"Sehingga mungkinkah ada kapal selam di situ? Mungkin. Tapi pada saat itu enggak mungkin karena pada saat latihan, ini kurang lebih ada delapan kapal yang melakukan pengamanan, terus ada dua kapal friget kita yang mempunyai kemampuan sonar untuk mendeteksi. Sehingga tidak mungkin [ada kapal asing yang masuk]," jelas Iwan.

TNI AL Bantah KRI Nanggala Kelebihan Muatan

Hal lain yang dibahas masyarakat adalah kemungkinan KRI Nanggala memiliki muatan atau personel yang berlebih ketika menyelam untuk yang terakhir kalinya.
Laksamana Muda TNI Muhammad Ali dengan tegas membantah kabar tersebut.

“Bahwa kapal selam KRI Nanggala ini kelebihan muatan atau kelebihan personel pengawak, ini sama sekali tidak benar dan tidak berdasar. Karena mungkin yang pengamat itu belum pernah mengawaki kapal selam sendiri,” tegasnya.

Menurut Ali, berbagai operasi yang dilakukan biasanya membawa hingga 50 personel. Bahkan, jika tengah menjalankan tugas penyusupan, bisa membawa satu regu pasukan khusus tambahan yang berisi 7 orang. Sehingga bisa mencapai 57 personel.

“Sedangkan pada saat kejadian tragedi KRI Nanggala kemarin tenggelam, hanya 53 orang [awak kapal],” ujarnya.

Penjelasan Overhaul KRI Nanggala Dilakukan di Korea Selatan

KRI Nanggala diketahui sudah dilakukan overhaul [perbaikan menyeluruh] pada 2012 di Korea Selatan. Muncul pertanyaan mengapa overhaul dilakukan di Korea Selatan padahal kapal tersebut merupakan produksi Jerman.

Ali mengatakan, overhaul di Korea Selatan sudah mendapatkan export licensed. Yang artinya Jerman sudah mengizinkan overhaul dilakukan di Negeri Ginseng tersebut.

"Itu sudah mendapat export licensed kalau enggak salah. Jadi dia sudah diizinkan Jerman untuk melaksanakan overhaul dari negara pembuatnya," kata Ali.

Iwan pun menambahkan mengapa overhaul dilaksanakan di Korea Selatan. Ia mengatakan, Korea Selatan sudah pernah membangun sembilan kapal tipe 209 dan 1200, dan Korea Selatan sudah mempunyai export licensed sehingga punya kemampuan untuk membuat dan memperbaiki kapal sendiri.

"Dari itulah kenapa Cakra dan Nanggala dilaksanakan overhaul di Korea Selatan dengan kemampuan yang ada dan tidak jauh berbeda dengan kemampuan yang dimiliki Jerman saat itu," jelas Iwan.





Sumber Artikel | KumparanNEWS