Ticker

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Kemenkop UKM targetkan 100 koperasi modern, salah satunya sektor kelapa sawit

Kemenkop UKM targetkan 100 koperasi modern, salah satunya sektor kelapa sawit



Infoacehtimur.com / Ekonomi - Tahun ini, Kementerian Koperasi dan UKM (Kemenkop UKM) menargetkan adanya 100 koperasi modern lahir. Salah satu sektor yang disasar adalah industri kelapa sawit.

"Kami terbuka untuk bersinergi melahirkan koperasi sawit yang modern dan mendunia," kata Menteri Koperasi dan UKM Teten Masduki dalam siaran pers pada Rabu (28/4). Dia menambahkan, terdapat Lembaga Pengelola Dana Bergulir atau LPDB-KUMKM untuk melengkapi pembiayaan dari Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS) sebelumnya.

Adapun, pasar energi terbarukan dan konsumsi produk ramah lingkungan juga terus membesar, baik di dalam maupun luar negeri. Maka Teten menyebut, hal itu menjadi peluang untuk melahirkan produk-produk sawit unggulan.

Ditambah lagi dengan tanah Indonesia subur, petani juga jumlahnya banyak dan rajin-rajin. "Maka, kolaborasi antara koperasi tani dengan perguruan tinggi dan pelaku usaha lainnya akan mengubah kekuatan tadi menjadi keunggulan bagi bangsa kita," kata Teten.

Dia menambahkan, luasnya lahan sawit ternyata tidak lagi satu-satunya kunci untuk menjadi pemain utama sawit di dunia. Lebih dari itu, manajemen lahan, manajemen SDM, manajemen inovasi, serta teknologi dan manajemen pasar jauh lebih menentukan.

Terdapat tiga kunci agar UMKM berbasis sawit dapat tumbuh. Pertama, petani yang terkonsolidasi, artinya tak lagi petani berbasis perorangan, tetapi melalui koperasi. Kedua, terjalinnya kemitraan yang baik. Salah satu indikatornya adalah terfasilitasinya koperasi tani masuk ke dalam rantai nilai global. "Ketiga, adanya inovasi, R&D, hilirisasi produk sawit agar memiliki nilai tambah," ujar Teten.

Komoditi sawit dinilai memiliki peran penting dalam ekonomi perkebunan dan pertanian nasional. Berdasarkan data BPDPKS, ekspor komoditas sawit di tahun 2020 mencapai US$ 22,97 miliar atau setara Rp 321,5 triliun. Angka ini tumbuh naik 13,6% dibandingkan pada tahun 2019.

Sebelum pandemi, Teten menceritakan dia bersama Menteri ATR/BPN Sofyan Djalil sempat ke Malaysia untuk melihat FELDA (The Federal Land Development Authority) dan FELCRA (Federal Land Consolidation and Rehabilitation Authority). "Meski dua entitas itu berbeda, namun kelembagaan ini punya tugas yang sama yaitu, mengatasi kemiskinan dengan optimalisasi tanah rakyat, termasuk melalui perkebunan sawit terpadu," pungkas MenkopUKM.


Artikel : KONTAN.CO.ID / Reporter: Ratih Waseso | Editor: Wahyu T.Rahmawati