Ticker

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Khairina Meutia Mahasiswi IAIN Langsa: Pentingnya Bahasa Daerah Pada Generasi Anak Muda Aceh

Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh [Foto. Shutterstock]


Penulis | Khairina Meutia (Nim: 2012017064), Mahasiswi IAIN LANGSA, Prodi Hukum Ekonomi Syariah, Fakultas Syariah, KPM DR2021

Generasi pada anak muda jaman sekarang ini sering disebut dengan generasi milenial. Generasi milenial ini adalah generasi yang ditandai dengan keaktifan dalam penggunaan teknologi dan internet. Pada generasi ini, anak muda tidak hanya melakukan interaksi dengan satu daerah, tetapi banyak daerah, bahkan berbeda negara sekalipun. Generasi ini cenderung jarang menggunakan bahasa daerah. Dan banyak sekali yang tidak mengerti akan bahasa daerah. 


Indonesia adalah negara yang kaya akan budaya dan bahasa. Ada banyak sekali bahasa daerah yang ada di Indonesia. Masing-masing daerah memiliki karakteristik bahasa yang berbeda-beda. 
Salah satu bahasa daerah yang ada di Inodenisia adalah bahasa Aceh. Aceh merupakan provinsi yang terdiri dari 23 kabupaten, 13 suku, dan juga memiliki 11 bahasa daerah. Diantaranya adalah Bahasa Aceh, Bahasa Jamee, Bahasa Singkil, Bahasa Gayo, Bahasa Kluet, Bahasa Tamiang, Bahasa Alas, Bahasa Davayan, Bahasa Sigulai, Bahasa Pakpak, dan Bahasa Haloban.

Penggunaan bahasa daerah khususnya Aceh, jarang diminati karena beberapa orang lebih banyak menggunakan bahasa Indonesia dari pada bahasa Aceh. Penggunaan bahasa Aceh ini perlahan mulai hilang dikarenakan orangtua yang jarang sekali mengajarkan dan menggunakan bahasa Aceh kepada anak-anak mereka. Bahkan, didalam lingkungan pun sudah tidak lagi menggunakan bahasa daerah.

Penggunaan bahasa daerah dianggap tidak modern. Padahal, ada banyak sekali bahasa yang ada pada provinsi Aceh yang sangat diharuskan untuk generasi milenial mempelajarinya dan juga melestarikannya. 

Suatu wilayah akan semakin luntur kebudayaannya apabila tidak kuat penjagaannya terhadap ciri khas budaya itu sendiri. Kita tidak bisa menjaga bahasa daerah melalui kesadaran saja, tetapi hal ini perlu diterapkan dalam setiap keluarga dan juga pada lingkungan sekitar.
Generasi milenial lebih banyak menyukai dan menggunakan bahasa “gaul” daripada bahasa daerahnya sendiri. Tidak ada lagi kesadaran bahwa bahasa daerah merupakan lambang kebanggaan daerah dan juga karakteristik daerah itu sendiri.


Aceh merupakan suatu wilayah yang kaya akan budaya. Bahasa Aceh merupakan hal yang penting dan harus dijaga agar tidak punah. Bahasa daerah Aceh akan terancam punah apabila generasi milenial tidak lagi menggunakan bahasa daerah tersebut. 

Oleh karena itu agar bahasa Aceh tidak punah pada generasi milenial, orangtua dituntut untuk memperkenalkan sedini mungkin bahasa Aceh pada anak-anak dalam kehidupan sehari-hari. Sehingga anak-anak mampu mengetahui dan juga melestarikannya sejak dini. Karena jika bahasa ini sering digunakan, maka generasi milenial akan semakin mahir dalam mengucapkannya dan berinteraksi menggunakan bahasa Aceh. Tetapi apabila bahasa ini jarang digunakan pada generasi milenial, maka mereka akan lupa pada bahasa daerahnya.

Untuk melestarikan bahasa daerah, juga perlu adanya tanggung jawab penting yang harus diembankan oleh pemerintah. Sebagaimana yang telah diatur dalam Undang-Undang Dasar pasal 32 tentang memajukan bahasa daerah.

Kita sebagai generasi milenial seharusnya bangga dengan bahasa yang kita punya karena bahasa Aceh adalah bahasa yang dituturkan oleh suku Aceh, dan merupakan suatu kebanggaan bagi masyarakat Aceh yang didalamnya terkandung pelajaran tentang norma, nilai-nilai, budi pekerti, juga adat istiadat.



Penulis: Khairina Meutia
Nim: 2012017064
Prodi: Hukum Ekonomi Syariah
Fakultas: Syariah