Ticker

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Kisah Inspiratif Jafar Insya Reubee, Eks Tukang Becak di Lhokseumawe yang Kini Jadi Toke di Malaysia

Jafar Insya Reubee dan istrinya Maiza Mansur. Foto direkam Maret 2021. 

INFOACEHTIMUR.COM – Himpitan ekonomi memaksa Jafaruddin menguburkan cita-citanya untuk menjadi anak sekolahan.

Jafar terpaksa menjadi petualang di usia yang sangat belia, yaitu 15 tahun.

Ia telah membuktikan kebenaran kalimat “pengalaman adalah guru terbaik”.

Jafar juga menjadi salah satu sosok yang berhasil membuktikan bahwa “doa ibu dan ayah, dibarengi kerja keras, keuletan, dan ketabahan, akan mengantarkan seseorang kepada kesuksesan yang tak pernah terbayangkan.”


Kini dia menjadi bos dari tiga kedai runcit (kelontong) di Malaysia.

Satu dari 3 kedai runcitnya masuk kategori swalayan, sementara 2 lainnya masih kategori kecil.

Meski bagi sebagian orang omset ini belum seberapa, tapi bagi Jafaruddin yang dulunya berprofesi sebagai tukang becak di Lhokseumawe, ini adalah pencapaian yang sungguh luar biasa.

Ia menyadari, semua ini tidak akan pernah ia capai tanpa doa dari orang tua dan dukungan dari keluarga, serta istri tercinta.

Jafaruddin yang kini populer dengan nama Jafar Insya Reubee, belakangan juga menjadi tenaga marketing pada Eko Indrajaya Trading Sdn Bhd, perusahaan jual beli mobil bekas milik H Man, pengusaha asal Paya Meuneng, Kabupaten Bireuen.

Dengan tujuan bisa menjadi insprasi dan motivasi bagi generasi, Jafar Insya Reubee, berbagi kisahnya kepada Serambinews.com, melalui pesan WhatsApp, Sabtu (24/4/2021).

Reubee yang Istimewa

Jafaruddin Bin Mohd Isya terlahir dari keluarga sederhana di pedalaman Kabupaten Pidie, Aceh.

Tepatnya di Desa Tanjong, Kemukiman Reubee, Kecamatan Delima, Kabupaten Pidie, Aceh.

Karena itulah Jafaruddin menyematkan nama Reubee di belakang namanya.

Untuk diketahui, Reubee adalah sebuah permukiman pedalaman di bagian barat Kabupaten Pidie.

Kemukiman ini berjarak sekitar 8 kilometer dari Sigli, ibukota Kabupaten Pidie.

Meski berada di pedalaman, tapi Reubee pada masa lalu pernah menjadi salah satu daerah istimewa dalam Kerajaan Aceh Darussalam.

Di sinilah sultan termegah Kerajaan Aceh, yaitu Sultan Iskandar Muda menghabiskan masa mudanya untuk menuntut ilmu pada ulama besar asal Bugis, Daeng Mansur yang lebih dikenal dengan nama Tgk Chik Di Reubee.

Iskandar Muda kemudian menikah dengan putri Tgk Chik Di Reubee yang bernama Putroe Tsani.

Kuburan Putroe Tsani ini berada di Gampong Reuntoh Kemukiman Reubee, terpatut sekitar 3 kilometer dari kuburan ayahandanya, Tgk Chik Di Reubee, di Meunasah Raya Reubee.

Sejak dulu, Reubee merupakan salah satu gudang penghasil orang kaya di Aceh.

Di antaranya yang paling terkenal adalah almarhum Ibrahim Risjad, konglomerat kelas atas yang pada masa Orde Baru memiliki berbagai usaha di bawah bendera Risjadson Group.

Namanya bahkan dimasukkan dalam jajaran The Gang of Four (Kelompok Empat) Indonesia, bersama Sudono Salim (Liem Sioe Liong), Djuhar Sutanto (Liem Oen Kian), dan Sudwikatmono.

Pada masa Orde Baru, kelompok ini bisa dibilang merupakan partnership yang cukup sukses, dan telah menghasilkan perusahaan besar seperti Bogasari dan Indocement.

Nama Kelompok Empat sendiri bukanlah ciptaan mereka, melainkan dari media massa.

Selain Ibrahim Risjad, masih ada nama Ibrahim Pidie dengan usaha Fajar Baizury Group, dan beberapa nama lainnya yang bermain di level Aceh maupun kabupaten.

Jafar Insya Reubee, memang masih jauh dari kelas dua Ibrahim itu.

Tapi kisah perjuangannya hingga mendapatkan kehidupan yang nyaman patut menjadi inspirasi, karena sangat mungkin dicapai oleh para anak muda bernasib seperti dirinya.

Merantau Sejak Usia Belia

Lahir pada 10 November 1973, sebagai anak pertama dari pasangan Muhammad Insya (Allahyarham) dan Umiyani, Jafaruddin menjadi harapan ekonomi keluarga di masa depan.

Apalagi dia kemudian menjadi anak pertama dari 7 bersaudara.

Mau tidak mau, Jafar harus ikut bekerja keras membantu orang tuanya menyekolahkan adik-adiknya.

Kehidupan keluarganya yang morat-marit membuat Jafar mau tidak mau dan siap tidak siap, harus menjadi tulang punggung keluarga.

Ia pun memulai petualangannya di rantau pada tahun 1988.

Saat itu Jafar berusia 15 tahun.

Ia baru saja lulus dari Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) Reubee.

“Kala itu saya sudah mengambil formulir pendaftaran masuk ke MTsN Gampong Aree,” ungkap Jafar melalui pesan WhatsApp kepada Serambinews.com, Senin (26/4/2021).

Namun, kehidupan keluarganya yang morat marit, membuat Jafar harus menguburkan mimpinya untuk melanjutkan pendidikan formal ke jenjang yang lebih tinggi.

Jafar harus menguburkan cita-citanya untuk menjadi seorang guru.

Dengan uang pas-pasan untuk ongkos, Jafaruddin memulai kisah perantauannya ke Lhokseumawe yang kala itu berjuluk Kota Petro Dolar.

Saat Jafar datang, Lhokseumawe sedang berada di puncak kejayaannya.

Bak gadis yang memikat banyak pemuda, Kota Lhokseumawe yang kala itu menjadi pusat industri perminyakan dunia, menarik banyak pemuda Aceh untuk mengubah nasib.

Dengan hanya bermodal lulusan MIN, Jafar harus menerima nasibnya menjadi pekerja kelas bawah.

Ia memulai kehidupan barunya sebagai pekerja pada toko kelontong dan bumbu giling milik Bang Jafar, warga asal Ceurih, Gampong Aree, yang berjualan di pusat pasar Lhokseumawe.

Empat tahun di sini, ia mencoba peruntungan barunya dengan menjadi pelayan pada warung nasi milik warga asal Meunasah Mesjid Reubee yang dia sebut bernama Abua Chat.

Empat tahun berselang, Jafar mencoba hidup mandiri.

Ia membeli becak mesin dan melayani penumang di sekitar kawasan Lhokseumawe.

Pekerjaan ini dia lakoni sambil menjadi pelayan Warung Kopi Delima milik Bang Ramli, yang sekaligus juga tempat dia beristirahat.

“Mereka-mereka ini adalah orang-orang yang sangat berjasa dalam hidup hidup saya. Ada juga almarhum Abua Hamzah,” ujarnya mengenang masa-masa pahit tapi indah saat merantau di Lhokseumawe.

“Karena ingin mandiri, kemudian saya memutuskan membeli becak dan menjadi tukang becak. Pekerjaan itu saya lakoni selama sekitar dua tahun, hingga kemudian hijrah ke Malaysia untuk menyongsong kehidupan yang lebih baik,” ujarnya.

Hijrah ke Malaysia

Hingga pada akhir tahun 1998, ketika cahaya gas Lhokseumawe mulai meredup, Jafar mengambil sikap untuk merantau ke Malaysia.

Kali ini ia benar-benar memulai hidup yang sangat baru, jauh dari orang tua dan sanak keluarga.

Keinginannya merantau ke Malaysia semata-mata termotivasi dengan cerita-cerita sukses beberapa orang sekampungnya yang mendapatkan kehidupan lebih baik di negeri jiran itu.

Bermodal uang sebesar Rp 700 ribu, hasil tabungannya selama bekerja di Lhokseumawe, Jafaruddin naik bus ke Tanjung Balai, Sumatera Utara.

Ia berangkat bersama dua rekannya.

Mereka menginap tiga hari tiga malam di Tanjung Balai, menunggu boat yang akan membawa mereka ke Port Klang, Malaysia.

Tapi saat boat datang, rekan Jafar Insya mengurungkan niatnya setelah melihat boat yang akan membawa mereka ke negeri jiran berukuran kecil.

“Perjalanan sungguh berat, berangkat tengah malam, subuh baru sampai di Port Klang. Saya bawa uang Rp 700 ribu, ongkos boat Rp 300 ribu, sisanya Rp 400 ribu untuk jajan di Malaysia,” ungkap Jafar.

Sesuai arahan yang diperolehnya saat di Aceh, dari Port Klang, Jafar langsung naik bus menuju ke Taman Datuk Harun.

Di sini, dia bertemu dengan beberapa orang Aceh yang tidak pernah dia kenal sebelumnya.

“Baru dua bulan kemudian saya bertemu Tgk H Rasyid atau Abua Rasyid, keluarga asal Meunasah Geudong Reubee. Dari sinilah kehidupan baru saya bermula,” ujarnya.

Oleh Abua Rasyid, Jafar diarahkan bekerja di pasar borong, dan selanjutnya bekerja di kedai runcit milik H Ruslaidi dan Tgk Mansur Yahya.

“Semuanya atas bantuan Abua rasyid Meunasah Geudong,” ujarnya.

Pada tahun 2003, tepatnya hari Ahad 21 April 2003, Jafar menikah dengan Maiza Mansur, gadis pujaan hatinya asal Kabupaten Bireuen.

Pelan namun pasti, kehidupan Jafar mulai berubah ke arah yang jauh lebih baik.

Pernikahannya dengan Maiza Mansur, membuahkan dua permata hati yaitu Rhania dan Zaheeri.

Jafaruddin yang dulu tukang becak di Lhokseumawe, kini telah menjadi toke dari tiga kedai runcit (kelontong) di Malaysia.

Satu dari 3 kedai runcitnya masuk kategori swalayan, sementara 2 lainnya masih kategori kecil.

Jafaruddin yang kini populer dengan nama Jafar Insya Reubee, belakangan juga menjadi tenaga marketing pada Eko Indrajaya Trading Sdn Bhd, perusahaan jual beli mobil bekas milik H Man, pengusaha asal Paya Meuneng, Kabupaten Bireuen.

Sejak akhir 2019, Jafar Insya Reubee sering muncul dalam siaran langsung di Facebook Serambinews.com dan video-video yang dirilis Serambi On TV dari Malaysia.

Ia sering melaporkan setiap kegiatan komunitas warga Aceh di negeri jiran itu.

Jafar Insya Reubee telah membuktikan kebenaran kalimat “pengalaman adalah guru terbaik”.

Jafar juga menjadi salah satu sosok yang berhasil membuktikan bahwa “doa ibu dan ayah, dibarengi kerja keras, keuletan, dan ketabahan, akan mengantarkan seseorang kepada kesuksesan yang tak pernah terbayangkan.”(Zainal Arifin M Nur)




Sumber : Serambinews