Ticker

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Mengapa Perwira Militer Jepang Ibihara Melakukan Harakiri di Aceh?


Penulis | Iskandar Norman, Jurnalis (2003-Sekarang)

INFOACEHTIMUR.COM – Kisah perwira Jepang, Mayor Ibihara melakukan hara-kiri atau bunuh diri di Aceh merupakan salah satu noda dari kekalahan Jepang dalam perang di Krueng Panjoe, Bireuen, Aceh pada November 1945.

Peristiwa hara-kiri Mayor Ibihara itu saya temukan dalam buku Aceh Dalam Perang Mempertahankan Proklamasi Kemerdekaan 1945-1949 dan Peran Teuku Hamid Azwar Sebagai Pejuang. 

Buku ini ditulis oleh salah seorang pejuang kemerdekaan di Aceh AK Jakobi dan diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama pada tahun 1998.

Saat itu konvoi tentara Jepang bergerak dari Lhokseumawe ke Bireuen terdiri dari Batalyon Satu Resimen III Infantri pimpinan komando Mayor Suzuki. 

Batalyon ini sejak awal ditempatkan di Lhokseumawe, tapi satu kompi diantaranya dipulangkan ke Medan diganti dengan kompi lain dari Lhoksukon.

Batalyon yang dipimpin Mayor Suzuki berasal dari mantan batalyon pengawal lapangan terbang Blang Pulo deangan komandan Mayor Metsugi. 

Gabungan kedua Batalyon ini dinamai Suzuki Butay karena dipimpin Mayor Suzuki.

Selain Bireuen, sasaran Jepang adalah lokasi-lokasi yang pernah mereka duduki, tempat dimana banyak senjata tersimpan. Lokasi yang dituju Jepang antara lain: Teupin Mane, Geulanggang Labu, Tambo, Cot Gapu, Blang Pulo dan Kota Bireuen. 

Mereka akan menggali timbunan senjata untuk diserahkan pada sekutu di Medan, setelah Jepang menyerah kalah pasa Sekutu. Komandan sekutu/NICA di Medan Brigjen Ted Kelly menginstruksikan tidak boleh satu pucuk senjata pun ditinggalkan di Aceh.

Tapi rakyat Aceh tidak membiarkan hal itu, senjata Jepang tidak boleh dilucuti oleh Sekutu yang telah diboncengi NICA. 

Tapi senjata Jepang harus diserahkan kepada Residen Aceh. Saat itu muncul jargon “Serdadu Jepang boleh enyah dari Aceh, tapi senjatanya satu pelor pun tidak boleh berpindah tempat.”

Namun Jepang tetap berusaha mengulur waktu, menunggu hingga tentara Sekutu/NICA yang sudah bercokol di Pulau Weh, Sabang sejak 25 Agustus 1945 untuk masuk ke Aceh. Tapi kenyataannya Sekutu/NICA tak pernah bisa masuk ke Aceh, sehingga usaha Jepang menunggu Sekutu sia-sia. 

Peregarakan pasukan Jepang di berbagai daerah di Aceh juga diawasi oleh kelompok pejuang Aceh. Termasuk pergerakan pasukan Mayor Ibihara dari Lhokseumawe ke Bireuen.

Di Cot Gapu, Bireuen terdapat terdapat lapangan terbang darurat yang sebelumnya dijadikan resimen induk Jepang yang memasok kebutuhan logistik militernya dikuasai rakyat Aceh. 

Di sana waktu itu masih tersimpan logistik dan senjata Jepang termasuk tank yang onderdilnya sudah dipreteli. Malah dari sekian banyak tank di situ, delapan di antaranya masih bisa difungsikan setelah diperbaiki oleh montir M Yusuf Ahmad.

Sebelum 1000 pasukan Jepang sampai ke Cot Gapu untuk mengambil kembali persenjataannya. Pemuda pejuang dan rakyat menghadangnya di kawasan Krueng Panjoe. 

Dipilihnya Krueng Panjoe sebagai lokasi penghadangan karena sangat cocok untuk melakukan pengepungan karena dilintasi jalur kereta api. 

Pasukan Jepang yang diangkut dengan kereta api cocok dihadang di tempat tersebut. Selain itu, Krueng Panjoe berada di daerah persawahan di sana terdapat tanggul besar yang digunakan untuk mengairi sawah. Tanggul itu bisa dijadikan sebagai pertahanan.

Rel kereta api di Kampung Pante Gajah dekat Krueng Panjoe sekitar tiga kilometer sebelum masuk Stasiun Kereta Api di Matang Geulumpang Dua di bongkar. Pukul 20.30 siang, 24 November 1945, ketika kereta api terperosok tentara Jepang pun diserang dari berbagai sisi.

Pertempuran berlangsung dari siang sampai malam. Subuhnya tentara Jepang menggali lobang perlindungan. Tentara Jepang terkurung. Rakyat Krueng Panjoe bersama pasukan terus menggempur. 

Bersamaan dengan itu pintu bendungan dibuka, alir mengalir deras ke sawah. Lubang-lubang perlindungan yang digali Jepang penuh dengan air. Mereka terendam dalam persembunyian. Meski demikian, pertempuran terus berlangsung sampai sore hari.

Pada hari ke tiga, 26 November 1945 pukul 12.50 tentara Jepang mengibarkan bendera putih di gerbong kereta api. Jepang menyerah. Pimpinan pasukan Jepang Mayor Ibihara dan juru bicara Muramoto keluar dari gerbong kereta api dengan bendera putih di tangan. 

Setelah melakukan perundingan Mayor Ibihara melakukan harakiri (bunuh diri) akibat kekalahan pasukannya itu.