Ticker

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Mengenalkan Huruf Hijaiyah Pada Anak Usia Dini di Gampong Tualang Teungoh


Penulis | Sarah Yulis (PMA), Davit Oemar Amsyah Tambunan (HTN), Rafsanzani Asyegaf (MKS) Mahasiswa dari IAIN LANGSA, Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan, Fakultas Syariah, dan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam

Dalam menekuni Al-Qur’an, khususnya keahlian membaca Al-Qur’an hendaknya diajarkan kepada anak semenjak umur dini. Dalam mengajarkannya guru bisa memakai berbagai macam tata cara. Salah satunya merupakan tata cara membaca Al-Qur’an dengan memakai tata cara iqro’. Metode iqro’ merupakan salah satu tata cara yang bisa membuat anak umur dini belajar dengan kilat membaca Al-Qur’an. 

Pendidikan Al-Qur’an harus diperkenalkan pada masa kanak-kanak dengan sesi dasarnya ialah tentang pengenalan huruf hijaiyah. Karena Al-Qur’an yang menjadi pedoman serta pegangan di dalam kehidupan kelak baik di dunia maupun di akhirat, sehingga kita berusia tidak kehilangan pedoman hidup. Maka dari itulah untuk dapat membaca Al-Qur’an kita wajib mengenalkan terlebih dahulu huruf-huruf hijaiyah pada anak umur dini sebagai dasar dalam menekuni Al-Qur’an. Dengan menggunakan iqro’ ini diharapkan untuk anak umur dini supaya lebih mudah dalam mengenalkan huruf hijaiyah sehingga ke sesi membaca Al-Qur’an.

Tata cara iqro’ merupakan cara cepat belajar membaca Al-Qur’an”. Iqro’ adalah suatu cara membaca Al-Qur’an yang menekankan langsung pada latihan membacanya. Ada pula buku panduan iqro’ terdiri dari 6 jilid di mulai dari tingkatan  yang sederhana sampai ke sesi pada tingkatan yang sempurna. 

Dalam mempraktekkannya tidak memerlukan perlengkapan yang beragam, namun lebih ditekankan pada bacaan huruf Al-Qur’an dengan bacaan langsung tanpa dieja.

Pada jilid awal, seluruhnya berisi pengenalan huruf-huruf hijaiyah yang berharakat fathah. Diawali dengan (a-ba, ba-ta, ta-tsa) dan seterusnya hingga diakhiri dengan bunyi (ya). Kemudian pada akhir baris ada semacam ulangan atau kesimpulan dari penjelasan diatas. 

Lanjut



Tujuan dari literasi iqro’ merupakan untuk mempersiapkan anak didik menjadi generasi yang menyayangi Al-Qur’an, berkomitmen dengan Al-Qur’an serta menjadikan Al-Qur’an sebagai bacaan dan pedoman dalam kehidupan sehari-hari. Karena Al-Qur’an adalah kitab suci sumber utama ajaran islam yang jadi petunjuk untuk kehidupan umat manusia yang diturunkan kepada Nabi Muhammad melalui perantara Malaikat Jibril, sebagai rahmat untuk alam semesta.

Di Desa Tualang Teungoh Kecamatan Langsa Kota, dimana penulis melihat di desa Tualang Teungoh tersebut menggunakan iqro’ sebagai metode dalam mengenalkan huruf hijaiyah pada anak usia dini usia 4-5 tahun. 

Dalam pembelajaran tersebut penulis menerapkan metode iqro’ pada anak usia dini, dengan cara satu persatu anak tersebut dikenalkan huruf hijaiyah dengan menggunakan buku iqro dan juga papan tulis. 

Kemudian diakhir pembelajaran guru mengevaluasi pembelajaran tersebut dengan bertanya kembali pada anak tentang huruf hijaiyah dan menuliskan hurufnya di papan tulis. Dari 13 anak masih ada beberapa anak yang belum sepenuhnya mengerti dan menyimak perkataan orang lain, mengenal tanda baca huruf hijaiyah, dan mengucapkan kembali huruf hijaiyah yang diucapkan oleh guru. 


Hal ini terlihat pada saat kegiatan pembelajaran, misalnya pada saat guru bertanya anak tersebut tidak dapat mengulang dan mengucapkan kembali huruf hijaiyah yang sudah diucapkan oleh gurunya. Menurut pak geuchik Samsuar Amin, hal ini disebabkan oleh adanya kesalahan pada anak tersebut. 

Menurut Samsuar Amin, ada beberapa penyebab yang membuat anak tersebut lambat dalam mengenal huruf hijaiyah di gampong tualang teungoh. 

1. Orang tua

Orang tua adalah peran yang penting dalam mendidik anak untuk mengenalkan hal-hal yang baru. Salah satunya adalah mengajarkan anaknya dalam hal agama. Dimulai dari mengajarkan tentang hurf-huruf hijaiyah dan bacaan doa-doa lainnya. Terkadang ada orang tua yang langsung mengantarkan anaknya ke tempat pengajian tanpa anak itu diajarkan dulu olehnya. Oleh sebab itu, ini menjadi penyebab utama anak tersebut lambat dalam menangkap apa yang diajarkan oleh gurunya. Sebaiknya anak yang berusia 4-5 tahun sudah dikenalkan terlebih dahulu dasar-dasarnya sebelum di masukkan ke tempat pengajian.


2. Diri sendiri

Selain orang tua diri sendiri pun menjadi penyebab lambatnya dalam melakukan suatu hal. Jika ada keinginan dari diri kita apapun pasti bisa kita lakukan, apalagi anak-anak yang hiperktif. Anak-anak yang seperti ini akan sangat tertarik apabila kita mengajarkan hal-hal yang baru yang belum mereka ketahui. 

Menurut Downshen, dkk “kanak-kanak usia 4-5 tahun bisa menjajaki arahan-arahan yang lingkungan serta secara bersemangat berbicara tentang hal-hal yang mereka kerjakan”. Jadi dapat disimpulkan bahwa anak umur dini dapat membuat cerita, mencermati cerita dengan seksama serta menceritakan kembali. Pada usia ini, biasanya kanak-kanak bisa menguasai kalau huruf-huruf serta angka-angka itu dapat digunakan untuk menceritakan ataupun membagikan data. 

Pada hakikatnya anak merupakan makhluk yang membangun sendiri pengetahuannya. Disini peran orang tua dan guru hanya perlu memperhatikan proses pertumbuhan anak dalam membangun pengetahuannya sendiri seperti nilai-nilai agama, moral, bahasa, kognitif, fisik serta sosial dan emosional.


Sehubungan dengan pembelajaran literasi Al-Qur’an untuk anak umur dini, hingga belajar membaca Al-Qur’an pada anak umur dini merupakan sesi dasar mengenal huruf hijaiyah dari “Alif” sampai “Ya” hingga melafalkan dan membaca huruf hijaiyah dengan mudah serta fasih. Karena kemampuan membaca Al-Qur’an merupakan kemampuan yang utama dan pertama yang harus dimiliki oleh anak. 

Dengan adanya mahasiswa KPM (Kuliah Pengabdian Masyarakat) dari IAIN Langsa dapat membangkitkan semangat, minat belajar serta menjadikan motivasi untuk kanak-kanak usia dini tersebut.