Ticker

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Mahasiswa IAIN Langsa: Tradisi Meugang Menyambut Ramadhan di Aceh


Penulis | Nadia Syahfira Purba PBI, Maulina Sri Rezeki HES, Rika Mawardah PBS / Mahasiswa PKM IAIN Langsa 2021

Bulan ramadhan ialah bulan yang kehadirannya dinantikan oleh seluruh umat muslim, baik dalam negeri maupun luar negeri. Dalam penyambutannya, pasti tiap daerah mempunyai keunikan tertentu untuk menyambut datangnya bulan suci ramadhan ini. Salah satunya yaitu Aceh. Seperti yang kita ketahui, Aceh merupakan daerah yang kental dengan nuansa religinya, sehingga Aceh sendiri dijuluki sebagai Serambi Mekkah.

Masyarakat Aceh menyambut suka cita bulan Ramadhan. Satu hari saat sebelum Ramadhan, masyarakat di ujung Pulau Sumatera itu mengawali tradisi meugang. Meugang merupakan tradisi memasak serta memakan daging sapi sehari sebelum puasa Idul Fitri dan Idul Adha dan dinikmati beramai-ramai bersama keluarga. Meugang juga memiliki makna ganda, tidak hanya silaturrahmi melainkan juga sebagai wujud rasa gembira menyambut bulan suci. Perayaan ini jadi momen berarti untuk berkumpul keluarga. Biasanya, orang yang merantau hendak mudik menjelang Ramadan atau Idul Adha untuk berkumpul di hari meugang. Hari istimewa yang menjadi tradisi ini diadakan tiga kali dalam setahun, yakni jelang Ramadhan, Lebaran dan dua hari saat sebelum hari raya Idul Adha. 


Tradisi ini telah berlangsung semenjak Aceh masih berada di tampuk kepemimpinan Sultan Iskandar Muda, sejak 1607 hingga 1636. Beliau memotong hewan dalam jumlah yang sangat banyak dan dagingnya dibagikan secara gratis kepada seluruh rakyatnya. Hal ini dilakukan sebagai rasa syukur atas kemakmuran rakyatnya dan rasa terima kasih kepada rakyatnya. Tradisi meugang ini sudah berlangsung turun-temurun sejak masa kesultanan Aceh beberapa abad lalu yang masih dilestarikan sampai saat ini.

Tradisi meugang sangat erat dengan Islam. Ini disebabkankan keseharian masyarakat Aceh yang tidak bisa terlepas dari Syari’at Islam, Adat dan Agama tidak bisa di pisahkan, sampai ada pribahasa di Aceh, “Adat ngen Agama Lage Zat ngen Sifet” maknanya adalah : ‘Adat serta Agama seperti Zat dan Sifat’ kiasnya ialah Adat serta Agama di Aceh tidak dapat terlepaskan dan tidak dapat dilepaskan.

Tradisi Meugang dapat di katakan nyaris mirip dengan Kurban, tetapi tatacara pelaksanaannya, tujuan serta waktu pelaksanaannya saja yang berbeda. Bila Kurban dilakukan untuk memperingati kisah nabi Ibrahim dan nabi Ismail, yang mana nabi Ibrahim ingin menyembelih anaknya karena ketaatannya kepada Allah SWT kemudian Allah menggantikannya dengan seekor Kambing, terus di peringati oleh Ummat Islam dengan Penyembelihan Kambing, Sapi ataupun Unta yang kemudian di bagikan kepada Ummat Islam yang Fakir dan Miskin, Meugang sendiri lahir sebab dilatar belakangi oleh rasa sosialis dan kekeluargaan masyarakat Aceh.


Meugang sendiri sudah menjadi warisan budaya Nasional melalui pengajuan Balai Pelestarian Nilai Budaya Aceh (BPNB Aceh) pada Sidang Penetapan Warisan Budaya Indonesia tahun 2016 yang diselenggarakan oleh Direktorat Warisan dan Diplomasi Budaya, Direktorat Jenderal Kebudyaan, Kemdikbud, pada tanggal 16 September 2016 yang lalu, tradisi meugang ini telah ditetapkan sebagai salah satu Warisan Budaya Nasional (Warbudnas) milik Indonesia yang berasal dari Provinsi Aceh. Langkah ini dianggap tepat mengingat aspek-aspek nilai kebaikan yang terkandung dalam tradisi makmeugang ini.

Dikala meugang, masyarakat Aceh beramai-ramai ke pasar untuk membeli daging. Banyaknya kerumunan manusia, mengakibatkan jalanan macet yang tidak terelakkan lagi. Tetapi, dengan aktivitas jual-beli ketika meugang ini, membuat perekonomian pasar tradisional terasa begitu hidup. Mereka membeli banyak kebutuhan pokok serta larut dalam kemeriahan meugang. Adapun aktivitas perkantoran dan sekolah terasa sepi, karena ketika meugang aktivitas seperti itu diliburkan, supaya semua orang dapat merasakan kemeriahan meugang bersama keluarga. 

Sampai saat ini juga, bagi masyarakat Aceh meugang tanpa membeli daging belum lengkap. Meskipun harga melonjak drastis saat meugang, lapak penjual daging tetap dikerumuni pembeli. Setiap keluarga biasanya membeli satu hingga tiga kilogram daging untuk disantap bersama. Di saat meugang ini anak kecil tidak dibatasi dalam memakan daging. Daging yang di konsumsi bebas sebanyak apapun asal perutnya bisa menampungnya. Bisa terbayangkan bagaimana perasaan jika seseorang orang tua tidak ada uang untuk membeli daging, bagaimana sedihnya perasaan anak dan orang tua tersebut.


Daging yang sudah dibeli, kemudian dimasak aneka macam masakan dengan rempah-rempah terbaik, yang akan disantap bersama keluarga. Setiap rumah dapat dipastikan memiliki menu makanan dengan bahan dasar yang sama. Di beberapa daerah seperti di pesisir barat dan selatan Aceh, warga yang menetap disana akan menyantap daging bersama-sama di pinggiran pantai.

Biasanya setiap daerah memiliki masakan khas daerahnya sendiri saat meugang. Bahkan antara satu rumah dengan rumah lainnya menu masakannya juga berbeda, namun dengan bahan dasar yang sama. Di perkotaan yang masyarakatnya kebanyakan merupakan pendatang dari berbagai daerah, mereka memasak sesuai dengan kebiasaan dari daerah asalnya masing-masing. Menurut mereka jenis masakan tidak lagi menjadi perhatian, beberapa ada yang memasak masakan modern seperti steak, semur, sate, dan lain-lain. Namun pada dasarnya, mereka memuaskan diri dengan menu berbahan dasar daging pada hari meugang.


Di Pidie, Bireun, Aceh Utara, Aceh Timur, Langsa, bahkan Aceh Tamiang dan beberapa daerah lain yang ada di Aceh, daging sapi biasanya diolah menjadi rendang, kari, dan sop daging. Dimana jenis kari ini berbeda-beda antara satu daerah dengan daerah lain. Seperti kari di Aceh yang memiliki perbedaan dengan kari India, meskipun rasanya sama-sama enak. Selain itu ada beberapa menu yang sering disajikan seperti masak merah, masak putih, tergantung sedikit banyaknya daging yang tersedia. Di Aceh Besar, saat meugang biasanya daging dimasak menjadi daging asam keueung, sie reuboh (daging yang dimasak dengan cuka), rendang dan sop daging. Di Kabupaten Nagan Raya, Aceh Barat, Aceh Barat Daya dan Aceh Selatan daging sapi biasanya dimasak menjadi gulai merah dengan ciri khas rasa pedas menyerupai masakan khas Padang, Sumatera Barat. Hal ini tidak mengherankan, karena seperti yang diketahui bahwa sebagian besar masyarakat Aceh Selatan adalah keturunan dari Padang, sehingga bahasa mereka dikenal juga dengan bahasa Jamee (tamu) yang sangat dekat dengan bahasa Padang.

Dengan demikian pelaksanaan tradisi Meugang secara jelas telah menunjukkan bagaimana masyarakat Aceh mengapresiasi datangnya hari-hari besar Islam. Tradisi ini secara signifikan juga telah mempererat relasi sosial dan kekerabatan di antara warga, sehingga secara faktual masyarakat Aceh pada hari itu disibukkan dengan berbagai kegiatan untuk memperoleh daging, memasak, dan menikmatinya secara bersama-sama. Selain dampak penguatan ikatan sosial warga di tingkatan gampong dan tempat kerja (kantor), nampak pula dampak signifikan dari tradisi ini di ranah pasar, yaitu aktivitas jual-beli daging yang meningkat tajam.