Ticker

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Usman Lamreung : BPMA dan Medco Harus Umumkan Secara Resmi Penyebab Keracunan Warga


Foto : Usman Lamreung, Dosen dan Pemerhati Politik dan Sosial.


Infoacehtimur.com / Banda Aceh -  Sejak peristiwa keracunan belasan warga Desa Panton Rayeuk T, Kecamatan Banda Alam, Kabupaten Aceh, Jumat (09/04) sampai saat ini PT. Medco E&P Malaka belum memberikan pernyataan resmi terkait penyebab keracunan gas akibat kegiatan flaring pencucian sumur gas dilokasi AS-11.Selasa (20/04/2021).

Disatu sisi PT. Medco E&P Malaka dan Badan Pengelolaan Migas Aceh (BPMA) mengklaim kegiatan flaring yang dilakukan pihak mereka sudah sesuai Standart Operasional Prosedure (SOP) akan tetapi terjadinya keracunan yang menelan belasan korban harus dirawat intensif di rumah sakit karena mengalami sesak nafas dan keluar darah serta ratusan lain nya harus di evakuasi dan diungsikan ke tempat yang aman.

"Namun sejauh ini Medco dan BPMA masih bungkam seribu bahasa,” kata Usman Lamreung selaku pemerhati politik dan sosial kepada Media ini. Selasa (20/04).

Menurut Usman Lamreung, pasca penanganan korban kerancunan gas dan kembalinya masyarakat Desa Panton Rayeuk T ke rumahnya masing-masing setelah mengungsi selama seminggu, Badan Pengelola Migas Aceh (BPMA) bersama PT Medco E&P Malaka hanya memaparkan hasil penanganan teknis dan non teknis kejadian bau gas di Blok A, Aceh Timur kepada DPR Aceh, Senin kemari (19/04).

“Dalam pertemuan tersebut, BPMA menyampaikan bahwa penanganan sudah sesuai dengan Standar Operasional Prosedur (SOP) Medco, dengan mengutamakan keselamatan kesehatan masyarakat dan lingkungan,” terang Usman Lamreung.

Dalam pertemuan tersebut kata Usman Lamreung, BPMA bersama Medco Malaka E & P menyampaikan juga, bahwa hasil survei pemantauan gas di lokasi sumur AS-11, AS-9A, AS-12 dan area pemukiman Desa Panton Rayeuk T oleh Dinas Lingkungan Hidup Aceh Timur bersama Medco.

Hasil survey di lokasi sumur AS-9, AS-11 dan AS-12 tidak tercium lagi bau menyengat diduga dari asap suar dan dari pengukuran kualitas udara di Desa tersebut dengan parameter SO2, H2S, dan CH4 terbaca nol, dan tidak lagi membahayakan keselamatan kesehatan masyarakat.

Namun BPMA bersama Medco Malaka E & P, dalam pertemuan dengan DPRA tidak menjelaskan penyebab terjadinya insiden tersebut. Apakah insiden tersebut benar-benar sesuai dengan Standar operasional perusahaan, misalkan prosedur pengelolaan lingkungan, atau tidak? Karena faktanya telah memakan korban belasan warga dirawat di rumah sakit.

Dengan beberapa kejadian yang sama, maka kita menilai BPMA lalai dalam melakukan pengawasan terkait kualitas penerapan prosedur oleh perusahaan, sehingga gas beracun kembali memapar penduduk setempat.

Usman lamreung menambahkan, jikapun Medco memiliki Standar Prosedur pengelolaan lingkungan, maka hendaknya kualitas SDM yang dijalankan prosedur tersebut perlu dilakukan audit, apakah telah sesuai kualifikasi SDM untuk jalankan seluruh prosedur atau belum mumpuni.

“Agar ini tidak terulang lagi, kami harap BPMA bersama Medco Malaka memberikan pernyataan resmi penyebab keracunan warga, apakah unprosedural ataupun faktor dari pengadaan barang/jasa,” tandas Usman Lamreung.

BPMA juga hendaknya memastikan beberapa prosedur lainnya diantaranya, pengelolaan informasi publik (konsultasi dan sosialisasi), pengelolaan penanganan keluhan dan lainnya benar-benar diterapkan agar potensi konflik dapat diminimalisir.

Bukankah gas tersebut tidak keluar dengan sendirinya? Tentu ada “tangan manusia” yang menyebabkan gas muncul dan memakan korban (mencium gas= korban).

“Publik juga belum mendengar solusi permanent dari peristiwa/insiden selama ini terjadi, apakah solusi pada konsep ataupun pada perbaikan Emergency Management Plan (emp),” tutup Usman Lamreug

Sebelumnya, General Manager Medco E&P Malaka Susanto mengatakan, saat ini, Perusahaan terus memonitor kondisi sekitar area operasi dan mendirikan pusat penerimaan keluhan warga.

“Kami sangat berterima kasih atas dukungan semua pihak dan juga terus berkoordinasi dengan Aparat di Aceh dan Aceh Timur,” katanya.

Selanjutnya Kepala BPMA Teuku Muhammad Faisal mengatakan, Sejak pertama kali laporan diterima, BPMA terus memonitor dan memberikan arahan kepada Medco dan mengirimkan perwakilan untuk berkoordinasi langsung di lapangan.

“BPMA akan terus memastikan dan memonitor proses pengkajian kejadian ini bersama pihak independen dan instansi terkait lainnya,” tandasnya.


Reporter : Masri / Editor : Redaksi / Publisher : Syaiful / Artikel : suaraindonesia-news.com