Ticker

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Kisah Perjuangan Pria asal Aceh Demi Masuk STAN, Sempat Gagal 2 Kali dan Lulus di Tahun Terakhir

Foto: Dok. Pribadi/Perjuangan Pria Aceh Masuk STAN: 2 Kali Gagal Tes & Lulus di Tahun Terakhir


INFOACEHTIMUR.COM – Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN) menjadi salah satu sekolah kedinasan favorit. Setiap tahunnya ada puluhan ribu peminat yang bersaing untuk lulus, salah satu adalah pria asal Aceh bernama Wahyu Iskandaria.

Pria yang akrab disapa Wahyu ini mengaku mengikuti ujian seleksi sekolah kedinasan pertama kali di tahun 2005. 

Kala itu, ia hanya ingin membantu keluarganya sehingga ingin menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS) dengan masuk sekolah kedinasan.

"Awalnya memang ingin kerja cepat, ingin jadi PNS. Kebetulan saya dari Aceh dan sangat ingin langsung kerja bantu orang tua," ungkap dia saat berbincang dengan detikEdu baru-baru ini.

Namun, keinginan tersebut tak berjalan lancar karena ia harus beberapa kali gagal mengikuti seleksi. Baru, di tahun terakhir kesempatannya ia dinyatakan lulus seleksi masuk STAN.

"Saya mencoba terus 3 kali, tahun pertama nggak lulus, tahun kedua nggak lulus, dan tahun ketiga akhirnya lulus," terang pria kelahiran Lhokseumawe ini.

Perjuangan tersebut dilakukan dengan penuh perjuangan. Wahyu diketahui mengikuti bimbingan les sekolah kedinasan hingga les bahasa Inggris untuk mengasah kemampuannya.

Bahkan, ia pernah mencoba tiga instansi sekolah kedinasan sekaligus untuk menggapai cita-citanya, yakni Sekolah Tinggi Ilmu Statistik (STIS), STAN, dan Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN). Disamping itu, ia juga menempuh pendidikan di Universitas Sumatera Utara (USU).

"Tahun 2005 itu susah dapat info, dan tanya ke sana ke mari, buku dan bimbel belum ada, jadi berjuang sendiri. Tahun pertama nggak lolos, sambil nunggu ujian selanjutnya kuliah di USU. Tahun kedua coba STIS, IPDN, dan STAN. IPDN gagal di tahap ketiga dan yang lain gagal langsung di tahap pertama, akhirnya berpikir lagi harus fokus," kata Wahyu.

Kegagalan yang ia rasakan menjadi penyemangat dirinya untuk terus berjuang di tahun berikutnya. Wahyu pun mulai melakukan pola belajar insentif sepanjang hari di kesempatan terakhirnya.

"Akhirnya di tahun berikutnya saya persiapan dari Januari bimbel. Waktu itu karena namanya saya nggak banyak uang pilih yang murah saja. Dan dengan perjuangan luar biasa pola belajar beneran dari Subuh sampai 11 malam totalitas, liburnya cuma Minggu dari jam 1 siang sampai 7 malam," kisahnya.

Perjuangannya pun membuahkan hasil. Wahyu dinyatakan lolos masuk STAN jurusan Penilaian D3 pada tahun 2007. 

Ia lulus di tahun ketiga atau kesempatan terakhirnya mengikuti seleksi.

Selama menjadi mahasiswa STAN, ia mengaku sangat menyukai lingkungan serta materi yang dipelajari. Berkat hal itu pula, ia mendapatkan IPK mencapai 3,56 atau tertinggi sepanjang hidupnya.

"Dalam perjalanan jadi menarik karena ngebedah rumah (penilaian), konstruksi apalagi usaha-usaha perkebunan sawit, pom bensin, hotel. Jadi antusias dan IPK jadi 3,56 tertinggi sepanjang hidup saya," tutur dia.

Usia menempuh pendidikan selama 3 tahun, Wahyu pun lulus dan menjadi Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS). Kariernya terus meningkat, sejalan dengan lamanya waktu mengabdi di instansi pemerintah tersebut hingga bertugas di Direktorat Pajak.

"Magang di Jakarta di KPP Jakarta Pratama Menteng I dan itu masih CPNS. Nunggu penempatan pertama 7-8 minggu dan ternyata dapat di Aceh, sampai 2014 dapat promosi di sana. Lalu sempat ambil seleksi beasiswa D4 jurusan akuntansi 2014-2016 dan terakhir penempatan di Direktorat Pajak," imbuh Wahyu.

Pada tahun 2019, Wahyu memutuskan untuk resign dari PNS. Keputusan tersebut, menurut Wahyu berat dilakukan namun ia berani melakukan untuk keinginan yang lebih mulia, yakni mendukung pendidikan di Indonesia.

Wahyu diketahui memiliki bisnis les sekolah kedinasan bernama ENS dan les masuk PTN Tentor. Bisnis les sekolah kedinasan sendiri dibangun pada tahun 2009 bersama beberapa temannya kala duduk di bangku kuliah STAN.

Motivasi membangun tempat les tersebut awalnya karena ketidaksengajaan. Sebab, Wahyu awalnya hanya ingin hidup mandiri dengan berjualan dan mengajar les privat namun ternyata dia mendapatkan peluang yang lebih besar.

"Untuk bertahan hidup sebenarnya, ada senior bilang, ngapain jualan aqua galon, ya sudah ngajar privat saja, kan banyak anak daftar STAn dari Lampung, Jawa pasti daftar ke Jakarta. Jadi pasang booth depan kampus untuk membantu adik-adik dan masukin juga informasi bimbel privat di sana," jelas pria kelahiran tahun 1986 ini.

Saat ini, wahyu telah memiliki beberapa cabang les sekolah kedinasan. 

Ia pun berharap dengan resign dari PNS, Wahyu bisa fokus menjalankan bisnis les sekolah kedinasan, membuka lowongan pekerjaan untuk orang lain, serta mendorong pendidikan di Indonesia lebih merata.

"Saya juga berpikiran kalau serius bakal setengah-setengah. Akhirnya memutuskan untuk resign, agar lebih fokus. Kalau secara jangka panjang, zoom out saya di PNS saya harus totalitas juga nih harus mengembangkan karier yang luar biasa, dan teman-teman saya lihat sudah begitu, kalau saya mau mengembangkan cara lain, jadi saya pikir mengembangkan usaha," tegas dia.

"Saya lihat karena akan banyak tercipta lapangan kerja, karena guru-guru direkrut akhirnya berdampak buat banyak orang. Lebih mudah saya jalaninya di usaha ini dan saya punya banyak waktu luang dan bisa kolaborasi dan mengembakan diri juga. Mimpi saya ke depan, dunia pendidikan ini masih banyak yang harus disentuh di Indonesia. Pendidikan di Indonesia kurang merata baik secara fasilitas dan di daerah. harapn saya, setiap tahun ada beasiswa untuk anak orang mampu meskipun nggak begitu pintar, dan ada motivasi dan mengubah nasib menjadi CPSN," tutup Wahyu.(**)





Artikel ini telah tayang di DetikEdu dengan judul Perjuangan Pria Aceh Masuk STAN: 2 Kali Gagal Tes & Lulus di Tahun Terakhir