Ticker

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Mahasiswa Gambia Ini Jatuh Cinta dengan Aceh: Ini Tempat Terbaik di Dunia

Mahasiswa Gambia di Afrika Barat, Muhammed Bah berfoto bersama ayahnya sebelum berangkat kuliah ke Banda Aceh. Ayahnya meninggal tak lama kemudian setelah Muhammed Bah berada di Aceh. Foto Dokumen Pribadi 


INFOACEHTIMUR.COM – Sambil menyeruput minuman kopi miliknya, Muhammed Bah (27) alias Pa, terus bercerita tentang kisah hidupnya.

Setelah bercerita tentang penyebab ia memilih kuliah ke Aceh, Pa juga bercerita tentang suka dukanya selama kuliah.

Pa merupakan mahasiswa asal Gambia di Afrika Barat yang berkuliah di Universitas Syiah Kuala (USK) Banda Aceh.

Dia kuliah dengan fasilitas beasiswa dari USK, yang menanggung sekitar 80 persen dari kebutuhannya selama kuliah.

Pa menyebut, beasiswa USK yang dia terima meliputi biaya kuliah dan tempat tinggal. Sedangkan untuk makanan dan kebutuhan lainnya harus dia penuhi sendiri.

Di awal kuliah, Pa mengaku tidak ada masalah untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, karena rutin mendapat kiriman dari keluarga.

Tetapi setelah ayahnya meninggal, tak lama setelah ia kuliah ke Aceh, Pa tidak lagi mendapat dukungan finansial dari keluarga.

Apalagi perekonomian Gambia juga sedang sulit, terlebih di masa pandemi Covid saat ini.

"Ekonomi Indonesia jauh lebih kuat dari Gambia yang menyebabkan banyak orang Gambia datang ke sini dan belajar," ungkap Pa.

Dia mengaku kondisi keuangannya saat ini sangat buruk. 

"Ketika sakit, saya tidak mempunyai uang untuk pergi ke rumah sakit karena saya tidak mampu membayar biaya pengobatan," lirihnya.

Bahkan untuk makan sehari-hari pun, Pa mengaku sangat kesulitan, dan itu menjadi beban pikirannya setiap hari.

"Makanan menjadi tantangan besar karena saya harus memikirkannya siang dan malam,"

"Dan saya yakin ini sangat memengaruhi kinerja akademis saya," imbuh Pa.

Karena itu dia sangat berharap dan berterima kasih jika mendapat dukungan, baik dari swasta, pemerintah, maupun individu masyarakat.

Selama ini, Pa mengaku dibantu oleh beberapa temannya warga Aceh.

"Saya berterima kasih kepada semua teman saya dari Banda Aceh yang memperhatikan saya untuk memastikan saya dalam kondisi baik-baik saja," timpalnya.

Terkadang, Pa memiliki keinginan untuk bekerja sampingan, membantu teman-temannya warga Aceh yang telah menolong dirinya.

Tetapi niatnya itu terganjal dengan peraturan keimigrasian yang ketat, dan dia harus mematuhi aturan tersebut.

"Sebagai pelajar internasional, Anda tidak diizinkan bekerja karena visa pelajar F1," jelas Pa.

"Jika ada siswa yang melanggar peraturan itu, dapat menyebabkan si siswa dideportasi ke negaranya," tambah dia.

Terlepas dari itu semua, Pa mengaku jatuh cinta dengan Aceh. 

Aceh menurutnya adalah komunitas yang indah. 

Penduduknya sangat bersahabat dan baik, sehingga memotivasi dirinya untuk tinggal di Aceh.

"Semua yang bisa saya katakan, Aceh adalah tempat terbaik sejauh ini di dunia. Karena tempat ini damai dan aman," ucapnya.

Lalu apakah dia berniat ingin menikahi perempuan Aceh dan ingin menetap di Aceh?

"Insya Allah jika Allah memberi (jodoh perempuan Aceh), akan saya ambil,"

"Karena sebagai seorang muslim, dia dapat menikah dengan wanita muslim mana pun,"

"Dan jika Allah menetapkan tujuan saya untuk tinggal di sini, saya akan tinggal," tutur Muhammed Bah.(**)





Sumber Artikel : Serambinews