Ticker

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Harga Minyak Mentah dan CPO Melejit Terbang


Kebon Sawit / Foto: IST



Infoacehtimur.com / Ekonomi - Harga komoditas minyak sawit mentah (Crude Palm Oil/CPO) kembali melesat mengikuti pergerakan harga minyak mentah global yang tembus rekor tertinggi tahun ini. 
Harga kontrak minyak mentah Brent melesat dan ditutup di US$ 71/barel. Harga minyak mentah sudah naik lebih dari 40% sepanjang 2021 dan sudah pulih dari tekanan pandemi. 

Kenaikan harga minyak mentah menjadi katalis positif untuk harga minyak sawit yang merupakan bahan baku biodiesel sebagai substitusi bahan bakar fosil. Harga CPO melesat 3% lebih pada perdagangan hari Kamis lalu (3/6/2021) ke RM 4.246/ton. 

Harga minyak nabati global juga ikut terangkat. Di bursa komoditas Dalian harga kontrak minyak kedelai dan minyak sawit mentahnya naik masing-masing 3,9% dan 5,4%. 


Riset terbaru Refinitiv menunjukkan adanya potensi penurunan output minyak sawit Negeri Jiran sebesar 1% di tahun 2021 menjadi 18,8 juta ton dikarenakan musim hujan bulan lalu. 

Harga minyak sawit mentah Negeri Jiran melesat di kala Malaysia tengah menerapkan lockdown untuk dua pekan ke depan. Meskipun aktivitas perkebunan kelapa sawit tidak dibatasi seketat sektor lain tetapi permasalahan kekurangan tenaga kerja belum sepenuhnya terselesaikan, sehingga menjadi upside risk untuk harga CPO.

Sebagai negara penghasil kelapa sawit terbesar kedua di dunia setelah RI, Malaysia banyak mengandalkan tenaga kerja asing untuk sektor perkebunannya terutama sawit. Pembatasan mobilitas menjadi ancaman bagi permasalahan ketersediaan tenaga kerja yang tadinya akut menjadi kronis. 


Pengumuman lockdown total disampaikan langsung oleh Perdana Menteri Malaysia Muhyiddin Yassin. "Hanya sektor ekonomi dan jasa penting yang akan diizinkan untuk beroperasi," ujar Muhyiddin dilansir Straits Times, Sabtu lalu (29/5/2021).

Baca: Emiten Menara Grup Djarum Bagi Dividen Rp 1 T, Cek Jadwalnya!
Desakan untuk lockdown total sudah muncul sebelum keputusan Muhyiddin. Sebelumnya Sultan Negara Bagian Johor, Sultan Ibrahim Iskandar, meminta pemerintah Malaysia mempertimbangkan penguncian penuh alias "full lockdown".

Kenaikan kasus Covid-19 di Malaysia bahkan lebih ngeri ketimbang India jika melihat salah satu indikator epidemiologi berupa kenaikan kasus per 1 juta penduduk di Malaysia sudah lebih tinggi dibandingkan dengan India.


Berdasarkan catatan CNBC International, rata-rata kasus infeksi Covid-19 harian di Malaysia per satu juta orang mencapai angka 205, jauh lebih tinggi ketimbang India yang mencapai 150.

Populasi Malaysia memang tak sebesar India karena hanya menampung 32 juta penduduk. Jelas jauh sekali jika dibandingkan dengan Negeri Bollywood. Namun jika angka pertambahan kasus harian per satu juta penduduknya lebih tinggi maka sudah jelas Malaysia sedang dalam keadaan darurat. (*)