Ticker

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Kampung YouTuber Bisa Raup Rp 150 Juta/Bulan

Siboen dan tim meraih Rp 150 juta/bulan dari YouTube (Foto: Arbi Anugrah/detikcom)



Infoacehtimur.com / Banyumas - Kampung Youtuber di Banyumas sukses secara komersial. Mereka bisa meraup penghasilan sampai Rp 150 juta sebulan. Yuk kita pelajari cara kerja mereka.

Siboen Chanel (dengan satu 'n') adalah akun YouTube yang punya 1,22 juta subscribers dan 2.032 konten video. Siswanto (38) atau Siboen --panggilan akrabnya-- adalah perintis Kampung YouTuber di Desa Kasegeran, Kecamatan Cilongok, Kabupaten Banyumas.

Sempat disangka pesugihan dan kelompok teroris, Siboen menangkis prasangka warga desa dengan prestasi gemilang dari YouTube dan Kementerian Sosial. Pada tahun 2019 dirinya mulai menargetkan anak didiknya di Kampung YouTuber agar sukses, agar pada tahun itu mereka harus mendapat gaji dari YouTube.


"Jadi saya pacu, pagi-pagi saya kumpulkan disini, gelar tikar. Awal yang ikut ada 60 orang di sini, pada tahun 2019 kita seleksi tersisa 33. Warga sini semua, untuk yang 20 orang asli sini, yang 13 tetangga desa," kata dia kepada detikINET awal pekan ini.

Sekarang dari Siboen Chanel yang merupakan channel rintisannya, dia sudah memiliki sekitar 10 channel lainnya yang memiliki konten berbeda-beda dari kuliner sampai horor dan misteri. Kesemuanya sudah mendapatkan silver play button, bahkan channel utamanya sudah mendapatkan gold play button.

"Pendapatan kita stabil di angka Rp 50 juta sampai Rp 150 juta perbulan, dari semua channel. Pendapatan pertama dari YouTube Rp 1,8 juta itu awalnya," ucapnya.


Selain channel utamanya, Siboen juga dikenal dengan konten dunia misteri, memancing hingga kegiatan jalan- jalan. Dalam sehari, dirinya disibukkan mengisi konten-konten tersebut.

Setiap hari pukul 06.00 WIB pagi, Siboen sudah harus di sungai untuk konten video memancing. Semua direkam, karena di sungai tidak ada sinyal. Nanti pukul 07.00 atau 08.00 WIB pagi dia pulang dan bahan video mentah diserahkan ke tim editing.

"Saya sarapan, habis sarapan saya ke bengkel, buat konten bengkel, ini sampai jam 12.00 WIB siang," ucapnya.


Selama waktu tersebut dirinya bisa mendapat lima konten, karena kegiatan di bengkel yang paling cepat, dalam sehari lima video dan itu dimainkan secara streaming. Maka tidak ada proses editing, karena dilakukan secara streaming, dan hal itu dilakukan terus untuk mengisi semua kontennya hingga pukul 23.00 WIB.

Hampir tiga tahun ini, Siboen mengaku tidur tiga sampai empat jam saja dalam sehari. Semua waktunya untuk membuat konten, karena proses editing proses penataan, masalah kebijakan dan lain sebagainya dia atur sendiri.

"Ada tim editing, tapi sifatnya kadang-kadang saya masih kurang puas. Jadi kadang anak-anak kalau sudah selesai editing dicek sama saya, kalau saya kurang cocok di benerin lagi," ucapnya.

Hingga saat ini, dalam melakukan aktivitas membuat konten, dirinya hanya menggunakan kamera handphone. Dia mengaku jika tidak terbiasa menggunakan kamera DSLR, pasalnya terlalu berisiko ketika melakukan kegiatan di luar, apalagi saat membuat konten misteri.

"Sekarang saya pakai HP saja, tidak ada kamera khusus, ada stabilizer itu pun pemberian saya tidak pernah beli, jarang dipakai soalnya risiko, apalagi kalau live streaming kan harus lari, saya biasanya pakai tripod, kalau pakai stabilizer takut jatuh rusak harganya jutaan, kalau tripod jatuh kan murah," ujarnya.(*)