Ticker

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

MASA DEPAN ACEH DAN POLA PIKIR MILENIAL

Oleh: Vinia Alvina

(Mahasisa Universitas Islam Ar-Raniry, Fakultas Dakwah dan Komunikasi)




Infoacehtimur.com / Opini - Aceh merupakan salah satu provinsi di Indonesia yang terletak di ujung Utara pulau Sumatra dan merupakan provinsi paling Barat di Indonesia. Provinsi Aceh berstatus sebagai daerah istimewa dan juga diberikan kewenangan untuk memperoleh Dana Otonomi Khusus (DOKA) berdasarkan capaian kesepakatan dari perundingan perdamaian antara  GAM-RI di Finlandia 2005 lalu. Menurut hasil sensus Badan Pusat Statistik Tahun 2019, jumlah penduduk provinsi ini  sekitar 5,281,891 jiwa.

Sebagai daerah yang di juluki Serambi Mekkah, sudah seharusnya “tanah rencong” harus menjadi cerminan bagi Generasi Muda daerah yang lain, khusus nya dalam hal etika yang estetis dan spiritualitas sebagai manusia beragama.

Masa depan Aceh akan membaik apabila program-program yang telah direncanakan oleh Pemerintah Aceh seperti Aceh Kaya, Aceh Kreatif, dan Aceh Troe dapat terealisasi dengan baik dan menyeluruh hingga tiap sendi-sendi masyarakat, baik perkotaan bahkan hingga pedesaan. Penulis menilai, Aceh bukan lah sebuah negeri yang pantas dengan kondisi rakyatnya terus-menerus berlinang air mata.

Aceh hampir selalu menjadi jawara ada berbagai indikator pembangunan, seperti contoh jika dilihat dari angka kemiskinan atau jumlah pengangguran. Aceh bahkan menjadi provinsi termiskin di sumatra dan nomor enam termiskin di indonesia. Lantas, apa yang menjadi indikator aceh tertinggal atau termiskin sedangkan jika dilihat dari Sumber Daya Alam (SDA) Aceh bahkan bisa dikatakan sebuah negeri yang kaya akan hal tersebut, semua itu tergantung bagaimana cara pemerintah memanfaatkannya.

Oleh karena itu, Aceh harus mampu keluar dari segala kesempitan pemahaman, menuju mentalitas kebebasan bagi aceh. Jika itu belum terwujud, maka generasi muda aceh harus berdiri digarda terdepan untuk mewujudkan kemerdekaan pikiran sebagai landasan dalam menggerak poros pembangunan untuk menciptakan sejarah gemilang dimasa depan.

Berbicara tentang masa depan Aceh, pemerintah harus mampu mencanagkan target pembangunan yang multiplier effect, menyukseskan program-program strategis, prioritas, dan berskala besar yang memiliki dampak bagi lintas sektor serta berjangka panjang/berkelanjutan.

Pemerintah harus hadir dalam kehidupan generasi muda yang sekarang dipengaruhi oleh teknologi yang semakin canggih  seiring terlaksananya revolisi industri 4.0 yang pada sisi lain apabila revolusi industri tersebut tidak dikelola dengan tepat maka bukan suatu keniscayaan untuk menjadi penyebab “tambahan” bagi rusaknya  generasi milenial. Dinamika yang terjadi di Aceh hari ini, perkembangan teknologi yang tidak dikelola dengan tepat terlihat pada banyaknya generasi muda yang kecanduan terhadap game yang mengakibatkan kurang pedulinya terhadap lingkungan sekitar hingga menumbuhkan sikap apatis terhadap perkembangan sosial.

Bagaimana cara meningkatkan kualitas pemuda milenial Aceh menjadi lebih baik secara prinsipal supaya mampu “membawa” aceh menyongsong masa depan yang gemilang sebagai daerah madani nan mandiri ?

Salah satu langkah yang dapat dilakukan untuk menjawab tanya penting tersebut adalah dengan mengajak dan menggalakkan pemuda milenial aceh untuk terlibat dalam organisasi-organisasi yang giat dalam menanggapi isu-isu pembangunan. Ruang publik dalam organisasi yang memiliki visi dan misi yang mendidik dan me-merdeka-kan pemikiran anak bangsa adalah tempat yang tepat bagi pemuda untuk “putar otak” agar pola pikir pemuda aceh dalam menanggapi dan mengimbangi tiap-tiap problem dapat lebih terarah dan terbuka dalam menanggapi pelbagai dinamika terkini terkait pembangunan. Selanjutnya, usaha paling mendasar yang menjadi tumpuan adalah dengan cara menerapkan budaya baca buku. Tak terbantahkan bahwa buku adalah jendela dunia bahkan jembatan untuk menuju masa depan hingga selamat dan sejahtera.


Dengan menerapkan konsep seperti ini, mindset generasi milineal Aceh akan lebih baik dan lebih produktif dalam berkarya demi majunya peradaban bangsa dan negara. Bukan seperti sekarang ini, para pemuda sebagian banyak terlalu apatis terhadap nasib bangsa dan negeri ibu pertiwi, maka revolusi untuk yang akan mendatang sangat sempit peluang untuk didapatkan.

menurut penulis, aksi menghidupkan rasa tanggungjawab moral seluruh pemuda supaya turut ikut andil dalam menanggapi kondisi negeri ini, melibatkan diri sebagai poros negri dalam menyukseskan pembangunan tanah air merupakan langkah awal paling mendasar untuk dapat menyongsong masa depat yang cerah nan gemilang bagi Bumo Aceh “Nanggroe Seuramoe Mekah” ini. Masa depan yang gemilang “meu giwang” tidah akan diperoleh secara serta merta dengan hanya menaruh harap semata pada Nahkoda Negri.