Ticker

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Kakan Kemenag Aceh Timur: Sudah Banyak Ulama Wafat, Umat Islam Harus Mawas Diri

Kepala Kementerian Agama Aceh Timur, Tgk H Salman SPd MAg mengatakan wafatnya seorang ulama di sebuah daerah merupakan bencana spiritual.



INFOACEHTIMUR.COM – Dalam kurun tahun 2021, sejumlah ulama kharismatik Aceh khususnya di Aceh Timur, telah berpulang ke Rahmatullah dalam waktu yang berdekatan.

Terkait terjadinya peristiwa ini, ada beberapa ibrah atau pelajaran yang dapat diambil dari peristiwa wafatnya sejumlah ulama di Aceh Timur, yang saling berdekatan dalam tahun yang sama.

Kepala Kantor Kementerian Agama Aceh Timur H Salman jika dilihat dari pandangan ajaran sufistik
wafatnya seorang ulama di sebuah daerah merupakan bencana spiritual.

Namun umat Islam, tidak boleh pesimis dan kehilangan arah.

"Kita harus yakin bahwa Allah akan menjaga agama ini selama kita masih mencintai agama ini. Jadi kita dulu harus mencitai agama ini, maka Allah akan mendatangkan kembali orang-orang yang menegakkah agama,” ungkap H Salman.

“Jika kita sudah mantap mencintai agama ini, maka Allah SWT, akan mendatangkan ulama baru yang akan mengawal kita,” tambahnya.

Bentuk umat Islam cinta terhadap agamanya, jelas Salman, yaitu mengkaji, dan terus mendalami ilmu keislaman, hingga datang petunjuk dari Allah SWT.

Namun, jika umat Islam semakin jauh dari agama, dan tidak lagi mencintai ulamanya, maka akan terjadi seperti runtuhnya Islam di Cordoba, Spanyol, yang mana umatnya lalai dengan kehidupan dunia, dan bersenang-senang, sehingga Allah SWT, menggantikan pemimpin dan tokoh-tokohnya dari Non Muslim, sehingga dikuasai oleh non muslim.

Kenapa hal ini terjadi, karena umat Islam di Spanyol saat itu tidak lagi mencintai agamanya, dan sudah banyak lalai dengan kehidupan dunia, dan banyak kemaksiatan.

Sedangkan, umat islam yang cinta terhadap agamanya, jelas Salman, maka Allah SWT akan mengutuskan ulama.

Seperti, orang-orang Madinah sangat mencintai agamanya, sehingga Allah SWT menyuruh Nabi Muhammad hijrah dari Mekkah ke Madinah, untuk memimpin mereka.

“Kenapa, hal ini karena, orang-orang di Madinah sangat menunjukkan rasa cintanya kepada Nabi Muhammad SAW. Sehingga orang-orang di Madinah membuat Baiat Aqabah dengan Nabi Muhammad, sebagai pertanda bahwa mereka mencintai Nabi Muhammad, dan berjanji akan melindunginya, dan peristiwa seperti ini akan berlaku sepanjang masa,” ungkap H Salman.

Iktibar lainnya yang dapat diambil dari peristiwa wafatnya ulama Aceh Timur yang saling berdekatan dalam tahun yang sama, jelas H Salman, yaitu pertama harus yakin bahwa peristiwa ini adalah takdir Allah terhadap ajal yang telah ditentukannya.

Kedua, jelas H Salman, bahwa ulama yang telah wafat ini, telah berusia lanjut, dan mengidap sakit yang telah lama.

“Namun kenapa meninggalnya berdekatan dalam tahun ini. Inilah, yang perlu kita renungi, dan menjadi iktibar bagi kita (generasi muda), dan calon ulama muda, bahwa kita harus mempersiapkan diri sebaik-baiknya, sebab ulama sebagai lampu penerang umat telah padam,” jelas Salman.

Karena ulama sebagai lampu penerang telah padam, jelas H Salman, umat harus mawas diri atau intropeksi diri, karena ulama yang memberikan petunjuk dan bimbingan bagi umat Islam telah diambil oleh Allah SWT.

“Tidak sekedar mawasdiri tapi kita juga, harus membekali diri, dan terus mengkaji, dan mendali ilmu-ilmu keislaman, agar umat dapat tercerahkan kembali dengan kehadiran ulama muda di Aceh Timur,” pinta Salman.(**)



(Artikel/Serambinews)