Ticker

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Masa Depan Migas Aceh ''di Pundak'' Siapa ?

Istimewa / Dok. Humas Pertamina

Infoacehtimur.com / Aceh - Minyak dan Gas (Migas) merupakan kandungan ‘perut bumi’ yang telah lama menjadi ‘buruan’ yang ‘bikin silau’ setiap mata dan kepala orang-orang yang mengetahui letak keberadaannya. Deskripsi tersebut tidak terkesan hiperbola dalam mengungkapkan jumlah kandungan dan nilai yang dimiliki oleh dua sumber daya mineral dimuka pulau-pulau bimu pertiwi. Minyak dan gas bukanlah barang baru dimata putra putri pertiwi bahkan pada era kolonial penjajahan, minyak bumi di indonesia sudah dieksploitasi oleh penjajah Belanda dan penjajah Jepang bahkaan diproduksi secara komersial.

Sejarah minyak bumi Tanah Rencong tak kalah gemilang dengan minyak timur tengah, bahkan hingga kini bumi serambi mekkah masih menjadi pengandung dan penghasil 2 (dua) ‘barang buruan’ tersebut.

Sekilas sejarah minyak di Aceh dimulai pada abad ke-16 yang kala itu masyarakat aceh telah menemukan minyak yang naik ke permukaan tanah rawa-rawa dan menggunakannya sebagai obat gosok, bahan bakar obor, hingga bahan bakar untuk perang ketika pahlawan aceh membakar kapal pasukan perang portugis di Selat Malaka sebagaimana yang dicatat oleh jamaluddin Ahmad (2001) dalam buku “Pertamina Peduli pembangunan Daerah Istimewa Aceh”.


Bahkan, ketika itu Aceh telah menjual hasil minyak bumi ke luar negeri. Artinya, Aceh telah melakukan perdagangan minyak kelas internasional pada abad 16 dan itu masih sangat-sangat jauh sebelum Indonesia ‘lahir’.

 


 

Pada Juni 1885, penjajah belanda bernama AJ Zijker menggali sebuah sumur minyak di Pangkalan Brandan. Sumur minyak yang diberi nama Telaga Said itu menjadi tanda dimulainya aktivitas pengeboran dinegeri ini. Awalnya, sumur Telaga Said dikelola oleh NV Koninklijke Nederlandsch Petroleum kemudian bersama Shell membentuk perusahaan minyak bernama Bataafsche Petroleum Mij (BPM).


Tahun 1901, Holland Perlak Mij NV Petroleum Mij Zaid Perlak (perusahaan milik belanda) melakukan eksplorasi minyak bumi di Rantau Panjang, Landeshap Perlak (aceh timur) dan mengalirkannya ke kilang penyulingan berkapasitas 2,4 ribu barel per hari melalui pipa  sepanjang 130 Kilometer ke kilang BPM di Pangkalan Berandan untuk diekspor keluar negeri melalui pelabuhan Pangkalan Susu. Ekplorasi di Perlak, Ekploitasi dan Produksi minyak diperlak lalu diekspor ke luar negeri melalui Pelabuhan Pangkalan Susu menjadi sejarah pengelola minyak yang ber-manajemen dan tersturtur dalam aktivitas penjualan secara komersial.

 

Early map of West Indonesia oil basins and potential additional prospective areas (Molengraaff, 1921)

Hingga 1934, perluasan eksplorasi diwilayah teritorial aceh timur seluas 50.00 Ha ditambah ekplorasi Tamiang membuat aktivitas Kilang BPM di Brandan menjadi ‘makin sibuk’. Agus Joko Mulyono di Tagar.idi (07/11/19) menuliskan bahwa produksi minyak dikilang penyulingan yang menjadi tujuan aliran minyak aceh yaitu Kilang BPM berjumlah mencapai 1.000.000 ton/tahun pada menjelang Perang Dunia ke-2 dan jumlah ekspor minyak aceh pada tahun 1938 mencapai 705.600 meter kubik.


Pasa penjajahan jepang tahun 1943, kilang penyulingan minyan berkapasitas 40 ton per hari juga dibangun oleh militer Jepang di Langsa, tepatnya di Paya Bujok.

Kilang minyak militer jepang di Langsa adalah kilang penyulingan minyak pertama yang berdiri di Aceh, sekitar 2 tahun sebelum Indonesia merdeka. Setelah Indonesia memproklamirkan kemerdekaan, pulau jawa ‘dijajah ulang’ dalam agresi pertama hingga agresi belanda ke-2, dilanjut pemberontakan DI/TII, membuat sumur minyak Perlak, Langsa, dan lainnya di Aceh menjadi semakin terbengkalai.

Tulisan Muhgiyono dalam buku “Pancaran Rahmat Arun”, pada tahun 1971, barulah datang perusahaan minyak asal Amerika bernama Mobil Oil melakukan eksplorasi (pencarian) minyak dan gas di Syamtalira Aron, Aceh Utara.

Niat mencari minyak, Mobil Oil malah ‘bertemu’ denga Gas dikawasan hamparan sawah dengan kapasitas yang sangat besar, sejumlah 17,1 triliun kaki kubik yang layak dikembangkan untuk puluhan tahun. Lokasi hamparan sawah tempat Pimpinan Mobil Oil bekerja kala itu adalah wilayah kerja PT Perta Arun Gas (PAG) saat ini. Kala masa jaya Kota Petro Dolar Lhokseumawe imbas dari aktivitas pertambangan di Aron, Provinsi Aceh digadang-gadang sebagai daerah penyumbang devisi terbesar untuk negara Indonesia melalui produksi LNG, LPG, dan kondensat serta minyak tanah.


Aktivitas petambangan di Aceh Utara berhasil ‘memancing’ perusahaan lain untuk ‘bekerja’ dikawasan yang juga disebut Tanah Pasee itu. Perusahaan yang memanfaatkan hasil alam aceh secara besar-besaran saat itu adalah PT Kertas Kraft Aceh (KKA), PT Pupuk Iskandar Muda (PIM), PT Asean Aceh Fertilizer (AAF), dan lainnya.

Selesainya ‘pekerjaan Arun’ membuat perusahaan hilir migas di kota ladang gas itu harus ‘termangu’, salah satu penyebabnya adalah ‘habis gas’ untuk kompor produksi seperti perusahaan pupuk dan lainnya.

Sejarah hasil bumi aceh yang begitu gemilang di era penjajahan hingga era 90an itu, kini menjadi tanggung jawab Pemerintah Aceh dan Badan Pengelola Migas Aceh (BPMA) harus lebih optimal dalam mengelola sumur-sumur migas yang sedang beroperasi supaya, jika Migas di Aceh nanti kembali ‘melimpah hingga tumpah ruah’ maka hal tersebut harus 'berakar' dari hasil kerja pengelola isi perut bumi Aceh. BPMA berdiri setelah konflik yang berkepanjangan di aceh, artinya BPMA lahir dari darah juang penghuni Tanah Rencong setelah perdamaian RI-GAM. Penemuan dan pengelolaan hasil alam aceh tersebut harus mampu mengangkat taraf dan derajat hidup orang aceh.(/kuta)