Ticker

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Perihal Uang Kerajaan Inggris dan Jual Beli Manusia



Inggris adalah negara yang menerapkan sisrem monarki tua yang masih aktif di dunia.


Berkuasa sejak 1952, Ratu Elizabeth II telah menjadikan dirinya penguasa monarki terlama dalam sejarah negara itu, yakni selama 68 tahun.


Sosok dan cara hidup "orang kerajaan" memiliki banyak pesona, bahkan hingga jumlah kekayaan anggota keluarga Kerajaan Inggris acap kali memancing perhatian publik.


Berdasarkan laporan Forbes 2017, jumlah keseluruhan kekayaan gabungan anggota keluarga Kerajaan Inggris mencapai US$88 miliar atau Rp 1.266 triliun.


Secara umum, sumber penghasilan suatu negara berasal dari pajak rakyat dan investasi.


Ratu Inggris Elizaberth II


Namun, bagaimana awal Kerajaan Inggris mendapatkan ledakan kekayaan sehingga mampu terus bertahan hingga sekarang.



Berdasarkan tayangan EXPLAINED di Netflix musim ketiga episode Royalty, mereka menyebutkan bahwa sumber kekayaan awal Kerajaan Inggris adalah perdagangan manusia atau budak.


Saat Raja Wiliam III berkuasa pada tahun 1700-an, dia mengambil alih monopoli Perusahaan Kerajaan Afrika.

Ratu Elizabeth 2 di Gudang Emas Keeajaan Inggris

Kerajaan Inggris menjadi investor utama perdagangan budak dan merupakan industri terbesar di dunia.


Kerajaan Inggris menculik orang-orang Afrika untuk kemudian dijual sebagai budak seantero Eropa dan Amerika. Jumlah budak yang dijual oleh Kerajaan Inggris nyaris mencapai tiga juta orang.



Bisnis tidak manusiawi tersebut kala itu menjadikan banyak penguasa mendadak kaya.


Sebuah studi besar pernah membeberkan jumlah utang Inggris ke Jamaika setidaknya mencapai US$3 triliun sebagai kompensasi penjajahan, sebagian besar untuk perdagangan budak, sebesar US$9,7 triliun kepada Jamaika, US$11,9 triliun pada Afrika, dan US$44,6 triliun untuk India.


"Kita harus mengakui ketidakadilan besar telah dilakukan dan warisan ketidakadilan itu masih ada. Kekayaan Inggris didapat melalui perbudakan," tandas Carolyn cooper seorang penulis dan profesor di University of West Indies.


Perdagangan budak berakhir tahun 1800an tapi hasil keuntungan dari bisnis tersebut telah membuat banyak kerajaan dunia bertahan sampai abad berikutnya.