Ticker

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Terombang-ambing 8 Malam di Lautan, Nelayan Aceh Terdampar di Pulau Pukhet Thailand

FOTO DOK PPN IDI / Sebanyak 32 nelayan Idi, Aceh Timur, ditangkap militer Thailand pada Jumat (9/4/2021) pagi di sekitar perairan Teluk Benggala. 


"Alhamdulillah, berkat kerja sama pihak terkait yang terus berkoordinasi, khususnya Kementerian Luar Negeri dan Pemda Aceh, sehingga kita bisa memulangkan nelayan kita dari Thailand," kata Plt Direktur Jenderal Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan KKP, Antam Novambar dalam siaran pers yang dilansir Antaranews, Sabtu (24/7/2021).

Antam menjelaskan, nelayan tersebut telah sampai di Jakarta pada Jumat (23/7/2021).

Bahkan, sudah diserahterimakan kepada Badan Penghubung Pemerintah Aceh.

"Saat ini, telah diserahkan kepada pemerintah daerah untuk dapat difasilitasi pemulangannya," ujar Antam.

Sementara Direktur Penanganan Pelanggaran KKP, Teuku Elvitrasyah menyampaikan, bahwa nelayan tersebut terdampar di wilayah perairan Racha Selatan, Pulau Phuket.

Kemudian, nelayan tersebut ditemukan aparat Thailand pada 13 Juni 2021.

Disebutkan, nelayan Aceh itu terdampar setelah mesin perahunya mengalami kerusakan.

"Nelayan tersebut awalnya seorang diri melaut dengan menggunakan perahu mesin tempel. Dikarenakan di tengah laut piston mesin terlepas, sehingga kapal terapung-apung di laut selama 8 hari 8 malam dan terbawa arus ke perairan Thailand," jelas Teuku.


Sepanjang 2021, KKP bersama dengan Kementerian Luar Negeri dan pemda sudah memulangkan 78 nelayan.

Mereka itu baik mengalami permasalahan hukum maupun terdampar di wilayah perairan India sebanyak 28 orang, Malaysia 48 orang, dan Myanmar 1 orang, dan Thailand 1 orang.

32 Nelayan Aceh Timur Ditangkap di Thailand

Kapal Motor (KM) Rizki Laot milik nelayan Idi, beserta 32 abk-nya diamankan oleh pihak keamanan angkatan laut negara Thailand, Jumat (9/10/2021) pagi sekitar pukul 07.00 WIB.

Seluruh ABK KM Rizki Laot ini sebenarnya 34 orang, tapi dua orang berhasil menyelamatkan diri menggunakan boat jalur dan Minggu dini hari sudah tiba di Kuala Idi dengan selamat.


Hal itu dikatakan, Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Aceh, Aliman SPi, MSi, melalui Kepala UPTD Pelabuhan Perikanan Idi, Ermansyah, Minggu (11/4/2021).

Ermansyah mengatakan, KM Rizki Laot itu ditangkap karena melewati batas negara dan memasuki wilayah perairan Thailand, yang saat itu angkatan laut negara Thailand sedang melakukan patroli.

Informasi terkini, ungkap Ermansyah, ke 32 ABK tersebut sudah dibawa ke darat menuju provinsi Phang Ga, Thailand.


"Kami saat ini sedang melaporkan kepada KKP RI, Kemenlu, untuk melakukan pendampingan terhadap para ABK ini dalam proses pemeriksaan nantinya," ungkap Ermansyah.

Dengan KM Rizki Laot ini, ungkap Ermansyah, sudah empat kapal nelayan Idi yang ditangkap pihak keamanan Thailand, dan semuanya ABK nya sudah dipulangkan.

Sedangkan di Myanmar sudah dua kapal nelayan Idi, yang ditangkap dan semua ABK nya juga sudah dipulangkan, dan satu orang nahkodanya masih menjalani tahanan.



Ermansyah mengatakan, pihaknya selalu memberikan sosialisasi kepada nelayan agar tidak melewati batas negara, saat hendak pergi melaut, karena potensi ikan di laut Indonesia juga masih banyak.

"Jadi kita imbau nelayan jangan lagi melewati batas laut, karena aparat kemanan mereka juga melakukan patroli.

Apabila sudah ditangkap proses pemulangannya sangat repot karena melibatkan lintas negara," ungkap Ermansyah.



KJRI Songkhla Dampingi Nelayan Aceh

Pihak Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) Indonesia di Songkhla, Thailand, dilaporkan sudah mengunjungi 32 nelayan Aceh yang ditahan otoritas negera tersebut pada Jumat (9/4/2021) lalu.

Hal itu berdasarkan keterangan yang disampaikan Wakil Sekjen Panglima Laot Aceh, Miftah Cut Adek, kepada awak media, Rabu (15/4/2021).

Miftah Cut Adek mengatakan, berdasarkan informasi yang pihaknya terima dari KJRI Songkhla, saat ini semua nelayan Aceh itu dalam kondisi sehat.



Pihak otoritas setempat dia katakan akan terus memantau kesehatan para nelayan tersebut.

Selain memantau kesehatan, pihak KJRI juga memberikan bantuan logistik, kebutuhan dasar, hingga memberikan pendampingan kepada nelayan yang ditahan.

Saat ini ia sebutkan, di Thailand sedang berlangsung libur panjang dalam rangka tahun baru Thailand, serta masih berlakunya darurat Covid-19.

“Sesuai laporan KJRI Songkhla, WNI nelayan asal Aceh itu dalam keadaan sehat dan terus dipantau kesehatannya oleh otoritas setempat,” ujar Miftah, meneruskan informasi dari KJRI.

“KJRI Songkhla telah mengantisipasi dengan memberikan pendampingan, bantuan logisitik, dan kebutuhan dasar lainnya yang diperlukan bagi 32 nelayan tersebut, mengingat saat ini sedang berlangsung libur panjang Tahun Baru Thailand dan masih berlakunya darurat Covid-19,” tulis Miftah lagi dalam pesannya.

Wasekjen Panglima Laot Aceh ini menjelaskan, 32 nelayan asal Idi, Aceh Timur, itu ditangkap oleh militer Thailand pada Jumat (9/4/2021) sekitar pukul 06.00 waktu setempat di perairan Andaman, ke arah utara Sabang.

Sebenarnya ada 34 nelayan yang ikut mencari ikan bersama boat KM Rizki Laot.

Tapi saat penangkapan itu, mereka semua sedang melempar pukat.

Sedangkan dua nelayan lagi naik ke perahu kecil untuk menahan ikan agar tidak keluar.



Saat pihak militer Thailand mendekat, kedua nelayan langsung melarikan diri, sedangkan 32 yang di boat tidak bisa kabur lagi.

“Mereka lari setelah KM Rizki Laot disergap. Kira-kira jaraknya jalo (perahu) dengan boat sekitar 30 meter. Mereka potong tali yang mengikat jalo ke boat, lalu melarikan diri,” cerita Miftah.

Kedua nelayan itu dengan menggunakan perahu mesin terus mengarah ke perairan Aceh.

Kemudian di tengah pelariannya, keduanya bertemu boat dari Lampulo.

Akhirnya mereka kembali ke Banda Aceh sehari setelahnya.

Saat ini dua nelayan yang berhasil kabur tersebut sudah kembali ke kampung halamannya di Idi.(*)


Sumber artikel by: SERAMBINEWS.COM