Ticker

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Haji Uma Minta Kasus Monumen Sumudera Pasee di Proses Hukum Sampai Tuntas


Infoacehtimur.com / Jakarta - 
Monumen Islam Samudera Pasai terletak sekitar 100 meter dari bangunan museum tersebut, atau sekitar 300 meter dari komplek situs makam Sultan Malikussaleh. 

Sejak tahun 2017 pembangunan monumen ini terhenti, padahal sebelumnya telah menyerap anggaran bersumber APBN.

Monumen Islam Samudera Pasai merupakan pengingat kejayaan Kerajaan Samudera Pasai, monumen ini akan menjadi tonggak penanda pusat peradaban Islam Asia Tenggara. Tampilannya akan memberi edukasi sejarah Islam yang mendunia.


Monumen itu didirikan di lahan seluas 7,5 hektare di Gampong Beuringen Kecamatan Samudera, Aceh Utara. Monumen itu dibangun dengan dana Tugas Pembantuan dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI, melalui Direktorat Pelestarian Cagar Budaya dan Permuseuman, Direktorat Jenderal Kebudayaan.

Saat bangunan sudah selesai, berhembus kabar tak sedap terkait anggaran dan kontruksi monumen tersebut, Pak Jul meminta pihak yang berwenang untuk mengusut tuntas permasalahan tersebut, hingga ke akar-akarnya, sebab anggaran untuk membangun monumen tersebut dari APBN bukan dari Pemerintah Aceh.


Terkait kasak kusut terjadinya korupsi monumen tersebut, H. Sudirman atau yang lebih akrab disapa Haji Uma anggota DPD - RI asal Aceh berharap permasalahan ini untuk di proses hukum sampai tuntas. 11/08

“Permasalahan ini kita serahkan kepada penegak hukum untuk proses sampai tuntas sebagaimana sudah berjalan, dan kita berharap penegak hukum bekerja maksimal dalam penegakan keadilan sesuai hukum yang berlaku” Ungkap Haji Uma  


Haji Uma juga sangat mengapresiasi  Kejari selaku lembaga vertikal pemerintah untuk terus mendalami kasus tersebut serta mengungkap siapa saja ikut terlibat.

"Siapa tahu masih ada oknum-oknum yang lainnya yang ikut terlibat dalam kasus tersebut meskipun sudah ada  yang ditetapkan sebagai tersangka," tegas Haji Uma lagi

Haji Uma menambahkan, dirinya sangat berharap monumen ini dapat segera diserahterimakan oleh Kementerian terkait kepada Pemerintah Kabupaten Aceh Utara sehingga dapat menjadi destinasi wisata sejarah bagi wisatawan lokal, Nasional maupun Mancanegara


Bangunan monumen ini dirancang berlantai 3 plus menara kubah. Lantai I akan difungsikan sebagai ruang pameran, bidang kebudayaan, bidang pariwisata, mushalla, ruang latihan tari dan musik, ruang serbaguna, gudang, sekretariat pengelola, sekretariat pemandu wisata, dan sekretariat penelitian. 

Sedangkan lantai II akan difungsikan sebagai cafe, restoran dan galeri souvenir. Lantai III dirancang untuk pajangan diorama sejarah.(*)