Ticker

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Mengapa Belanda Sulit Menaklukkan Aceh?

Tentara Belanda merebut benteng Fort Kuto Reh pada 14 Juni 1904 di tahap-tahap akhir Perang Aceh yang berlangsung selama 30 tahun. Perang Aceh menjadi salah satu perang dengan durasi paling panjang dalam sejarah dunia.(Wikipedia)


Infoacehtimur.com / Sejarah –  Sejak tahun 1873 hingga 1904, Belanda terlibat perang dengan Kesultanan Aceh yang disebut dengan Perang Aceh.

Perang Aceh menjadi salah satu perang terlama di dunia.

Upaya Belanda untuk dapat menguasai seluruh wilayah Sumatra ini terganjal di wilayah Aceh karena kerasnya perjuangan mereka. 

Selain itu, kurangnya informasi tentang daerah tersebut juga telah membuat Belanda benar-benar kewalahan.

Dengan pertahanan seperti itu, Aceh menjadi kota yang sangat sulit untuk ditaklukkan oleh Belanda. 

Latar Belakang Invasi Belanda ke Aceh

Perang Aceh terjadi karena keinginan Belanda untuk menguasai Aceh, di mana kedudukannya akan semakin penting baik dari segi strategi perang maupun jalur perdagangan sejak Terusan Suez dibuka tahun 1869. 

Sebelumnya, tanggal 17 Maret 1824, Inggris dan Belanda sudah sepakat tentang pembagian wilayah jajahan di Indonesia dan Semenanjung Malaya. 

Dalam kesepakatan tersebut Belanda disebut tidak dapat mengganggu kemerdekaan Aceh. 

Namun, pada kenyataannya Belanda tetap berusaha melancarkan serangan terhadap Aceh yang jauh dari ibu kota.

Kewaspadaan Sultan Aceh meningkat dan bersiap untuk menghadapi segala konsekuensinya. 

Pada 1871, terjadi penandatangan Traktat Sumatra antara Inggris dan Belanda yang semakin membuat Aceh khawatir.

Dalam perjanjian tersebut, Belanda diberi kebebasan untuk memperluas wilayah di seluruh Sumatera, termasuk Aceh. 

Usai perjanjian tersebut, Belanda melancarkan agresinya pada 5 April 1873 dipimpin Jenderal JHR Kohler. 

Sulitnya Menaklukkan Aceh

Pasukan Aceh yang terdiri atas para ulebalang, ulama, dan rakyat terus mendapat gempuran dari pasukan Belanda. 

Pertempuran sengit di antara keduanya berlangsung dalam upaya memperebutkan Masjid Raya Baiturrahman.

Namun, pasukan Aceh terus melakukan perlawanan, hingga pada akhirnya Jenderal JHR Kohler wafat di tangan pasukan Aceh. 

Kematian Kohler ini membuat pasukan Belanda terpaksa ditarik mundur ke pantai. 

Dari kegagalan tersebut, Belanda kembali merapatkan barisannya pada serangan kedua, 9 Desember 1873 di bawah pimpinan Jan van Swieten. 

Dalam serangan kedua ini, Belanda berhasil membakar Masjid Raya Baiturrahman dan menduduki Keraton Sultan.

Kendati demikian, rupanya persiapan Belanda masih tidak lebih matang dibandingkan rakyat Aceh. 

Bagian pantai utara dan timur yang biasa dijadikan tempat masuk kapal-kapal dijaga dengan sangat baik oleh rakyat Aceh. 

Begitu juga dengan jalur darat di selatan dan pantai barat yang tidak kalah ketat dari penjagaan pasukan Kerajaan Aceh. 

Untuk menghancurkan pertahanan, Belanda berusaha menghancurkan perkampungan dan pelabuhan dengan melakukan tembakan meriam.

Kemudian, Belanda juga memanfaatkan orang-orang yang mudah diperalat untuk menjalankan siasat pecah belah. 

Namun, cara ini tetap tidak membuat pasukan Aceh mundur. 

Pasukan Aceh justru semakin mempersatukan kekuatan mereka dengan semaksimal mungkin dalam melawan Belanda.

Selain itu, rakyat Aceh juga tidak mudah terbuai dengan adu domba yang dilakukan Belanda. 

Oleh sebab itu, Aceh menjadi wilayah yang sangat sulit ditaklukkan oleh Belanda.(/Kompas)