Ticker

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Rehab Rumah dan Gedung Capai Rp 2,8 Miliar, Pengamat Minta Wali Nanggroe Menolak

Foto : Gedung Wali Naggroe Aceh - dok. Serambinews.com/M. Anshar



Infoacehtimur.com / Banda Aceh - Pengamat Kebijakan Publik, Nasrul Zaman menilai Renovasi Rumah Wali Nanggroe dan Renovasi Gedung Sekretariat Lembaga Wali Nanggroe dengan dana mencapai Rp 2,8 miliar yang dianggarkan oleh Pemerintah Aceh dari Anggaran Pendapatan Belanja Aceh (APBA) 2021 sangat tidak sensitivitas terhadap keadaan masyarakat saat ini.

“Melakukan rehab rumah dan gedung di saat pandemi saat ini sangat tidak sensitivitas terhadap keadaan masyarakat, rehab rumah bukan sesuatu hal yang penting, seharusnya hal-hal seperti itu ditahan dulu,” kata Nasrul Zaman, saat dihubungi AJNN, Minggu (15/8).

Menurut Nasrul, sebaiknya Wali Nanggroe agar menolak rehab rumah dan gedung tersebut, sehingga masyarakat Aceh melihat ada memiliki sensitivitas terhadap keadaan dan ikut merasakan kesusahan yang dialami oleh masyarakat saat pandemi Covid-19.


“Aceh sudah terkenal sebagai daerah termiskin tapi ini malah hura-hura dengan rehab rumah dan rehab gedung dengan biaya miliaran, kita meminta pemerintah untuk membatalkan, atau Wali Nanggroe yang menolak, sehingga masyarakat melihat Wali Nanggroe juga ikut merasakan kekusahan rakyat,” tutupnya.

Diberitakan sebelumnya, Pemerintah Aceh sudah menganggarkan dana Rp 2,8 miliar untuk Renovasi Gedung Sekretariat Lembaga Wali Nanggroe dan Renovasi Rumah Wali Nanggroe.





Anggaran tersebut bersumber dari Anggaran Pendapatan Belanja Aceh (APBA) 2021.

Tender kedua paket tersebut sudah selesai. Dimana untuk proyek Renovasi Gedung Sekretariat Lembaga Wali Nanggroe dimenangkan oleh Pusat UPVC yang beralamat di Jalam profesor Ali Hasyimi, No.6 Kelurahan Pango Raya, Kecamatan Ulee Kareng, Banda Aceh dengan harga penawaran Rp 1,6 miliar.

Selanjutnya, Renovasi Rumah Wali Nanggroe, dimenangkan oleh CV Ditoz, yang beralamat di Jalam Poteumeureuhom, No 05, Desa Ilie, Kecamatan Ulee Kareng, Kota Banda Aceh, dengan harga penawaran Rp 1,2 miliar.

Sumber : Ajnn.net