Ticker

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Dermaga Tua Pedagang Aceh Timur Masa Kejayaan Peureulak Ditemukan

Dr. Usman Ibrahim dosen sejarah Unsam Langsa saat bersama Teuku Sulaiman, tokoh Gampong Seneubok Peusangan menujukan bekas dermaga Aceh tempo dulu. 



Infoacehtimur.com / Peureulak -Tim Peneliti Sejarah Universitas Samudra (Unsam) Langsa baru-baru ini menemukan dua lokasi dermaga milik pedagang Aceh, di Seuneubok Pusangan Peureulak, Kabupaten Aceh Timur.

Dermaga tersebut sebagai lokasi pusat transaksi perdagangan lada, kulit manis dan damar tempo dulu, yang terletak di desa Peusangan Peureulak bagian dari kawasan pantai Timur Aceh. 

Tim peneliti dosen sejarah ini terdiri atas Dr. Usman Ibrahim, M.Pd., Dr. Bachtiar Akob, M.Pd., dan Dr. Hamafiah, M.Pd., sedang melaksanakan kajian dan penelitian berdasarkan lingkup historical dan sosiologi tentang pencarian dan penelusuran pusat-pusat transaksi para pedagang di pantai timur Aceh. 


Menurut Dr. Usman Ibrahim, M.Pd, kepada Serambinews.com, Sabtu (4/9/201), menyebutkan, Dermaga Seuneubok Pusangan Peureulak yang terletak sekitar 0,5 km dari jalan Medan - Banda Aceh, masuk melalui jalan kuburan bagian kanan dari Gampong Peusangan Peureulak Aceh Timur, sebelum Dama Tutong.  

Dari informasi Teuku Sulaiman, seorang warga Seuneubok Pusangan Peureulak Timur kepada Tim Peneliti, bahwa dermaga/pelabuhan Seuneubok Pusangan tersebut terletak bagian utara berbatasan dengan Dama Tutong/Matang Gluem, selatan Aleue Nireh, Timur Seuneubok Pidie dan Barat dengan Jengki. 

Sungai Pusangan kala itu cukup dalam, bisa hilir-mudik tongkang dan kapal dagang dari Selat Malaka ke Dermaga Seuneubok Pusangat itu. Namun sekarang ini sudah dangkal dan menjadi areal perikanan masyarakat setempat.

Hal ini keberadaan dermaga (pusat transaksi) dimaksud merupakan warisan endatu pedagang Aceh tempo dulu, yaitu persis letaknya dari arah timur 1 km sebelum dari SPBI Keumeuneng Peureulak.

Berdasarkan kajian dan hasil penelitian Tim Universitas Samudra bahwa Dermaga Seuneubok Pusangan Peureulak pernah mencapai puncak kejayaannya, mulai zaman kesultanan dan sampai pemerintahan Belanda di Aceh (1840-1942). 

Pada masa tanaman lada, kulit manis, pala, damar dan getah, para pedagang dan Uleebalang di pantai timur termasuk kawasan Peureulak menempatkan diri sebagai pedagang eksportir dan penguasa tradisional hebat dalam kontrol dermaga/pelabuhan, termasuk dermaga Seuneubok Pusangan Peureulah kala itu. 

Teuku Sulaiman, memperoleh keterangannya dari neneknya (Teuku Nyak Abbas dari Ibunda; Cut Nyak Kalok), dialah yang memberikan informasi/keterangan tentang Bandar lada di Seuneubok Peusangan Peureulak pantai timur Aceh. 

Transaksi barang-barang dagangan tersebut dimuat dari dermaga Seuneubok Pusangan Peureulak kala itu, diantaranya barang-barang dagangannya, yaitu lada putih dan hitam, jera manis, kulit manis dan kayu manis. 


Sayed Abdul Mutallib Alatas memberikan keterangan bahwa rute perdagangan sampai ke Selat Malaka, yaitu sungai seuneubok pusangan melalui seuneubok Pidie, Kruet Lintang dan Alue Nireh terus ke kuala Selat Malaka.

Barang-barang dagangan ini dimuat dari dermaga dimaksud, lalu dikirim ke Malaya (Malaysia sekarang), India dan Timur Tengah sampai ke Eropah dengan menggunakan Tongkang, milik pedagang Islam Aceh, melalui Asosiasi Perdagangan dan Pengusaha Swasta, dengan kantor pusat di Peureulak pantai timur Aceh.

Pusat perniagaan tersebut, tidak jauh dari dermaga Seuneubok Pusangan Peureulak, adalah milik saudagar-saudagar terkenal pantai timur Aceh (yang berdekatan dengan dermaga Pusangan).

Sehingga pertumbuhan dan perkembangan ekonomi pantai timur Aceh, pada pase kedua ini, pada zaman pemerintah Belanda di pantai timur sudah terbuka dengan luar negeri dalam hal penanaman modal asing (foreign sector).

Sehingga terjadi persaingan antara tanaman tradisional dengan tanaman modern yang diperkenalkan oleh swasta kolonial Belanda, bukan berarti ekspor komunitas tanaman rakyat berhenti.

Tetapi ekspor hasil tanaman tradisional (lada, kulit manis dan kopra) tidak lagi diekspor ke Semenanjung Malaya. 

Melainkan melalui pedagang “Asosiasi Perdagangan dan Pengusaha Swasta” yang bermarkas di Peureulak pantai Timur Aceh. 

Mereka mengangkut menggunakan Atjeh Tram melalui pusat stasiun Idi, kemudian diangkut ke Pelabuhan Lhokseumawe dan Langsa Bay.

"Seperti tahun 1921, wilayah Peureulak/Idi mengekspor 340.725 kg lada dan Langsa 882.440 kg lada," tutup Dr. Usman Ibrahim.(*)

Penulis: Zubir | Editor: Taufik Hidayat | Sumber: Setambinews | Judul Sebelumnya:  Tim Dosen Sejarah Unsam Langsa Temukan Dermaga Lama Pedagang Aceh di Peusangan