Ticker

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Dosen Unsyiah Aceh Tetap Mengajar dari Dalam Lapas

Dr. Saiful Mahdi, dosen Universitas Syiah Kuala (USK) Banda Aceh saat dijatuhi vonis 3 bulan penjara karena kasus UU ITE. Foto: Dok. Istimewa


Infoacehtimur.com / Banda Aceh – Doesn Universitas Syiah Kuala Banda Aceh, Saiful Mahdi, kini mulai menjalani penahan tiga bulan penjara atas kasus UU ITE. Ia dibui setelah mengkritik sistem perekrutan CPNS di kampusnya sendiri.

Saiful Mahdi menjalani hukuman di Lapas Kelas II A Banda Aceh di Lambaro, Aceh Besar, sejak Kamis (2/9). Dirinya diantar langsung oleh keluarga, teman, sahabat hingga mahasiswanya.

Meski Saiful menjalani penahanan, dia dipastikan tetap masih bisa mengajar mahasiswanya dari balik jeruji besi. Hal ini disampaikan Syahrul kuasa hukum Saiful Mahdi dari LBH Banda Aceh.

“Kita memastikan aktivitas mengajarnya selaku dosen yang mengampu beberapa mata kuliah di Fakultas MIPA Universitas Syiah Kuala, bisa tetap berlangsung selama menjalani pidana penjara. Permintaan itu secara tegas dipastikan oleh S Mahdar selaku Kalapas,” kata Syahrul.

Syahrul menyebut, Lapas Kelas II A Banda Aceh juga mempunya fasilitas lengkap untuk memenuhi keperluan Saiful Mahdi mengajar mahasiswanya secara virtual.

“Kata Kalapas, mereka punya fasilitas Pak Saiful Mahdi mengajar. Fasilitas internet tersedia, begitu juga alat-alat untuk mengajar secara online,” ucap dia.

Selain itu Lapas Kelas II A Banda Aceh memastikan menyangkut dengan persoalan mengajar tidak akan menjadi hambatan meski Saiful tengah menjalani hukuman.

“Persoalan mengajar Pak Dosen, kami kira tidak akan jadi hambatan selama di sini. Kita akan memfasilitasinya. Tinggal jadwal dan teknisnya bisa dibicarakan lagi nanti bersama petugas,” tutur Syahrul.

Syahrul mengatakan, Saiful Mahdi dibawa ke Lapas Lambaro sekitar pukul 15.00 WIB. Sebelum itu mereka lebih dulu ke Kejaksaan Negeri Banda Aceh untuk menyelesaikan urusan administrasi pelaksanaan putusan pengadilan.

“Di Hari Pendidikan Aceh, 2 September ini, seorang dosen yang juga pejuang antikorupsi dan kebebasan akademik malah dipenjara. Kita datang ke kejaksaan hari ini bukan berarti ditundukkan, tetapi sebagai bentuk kepatuhan sebagai warga negara," kata Syahrul.

"Namun di sisi lain kita akan berupaya untuk mencari jalan, melakukan perlawanan dan membuktikan ke publik bahwa kritik itu bukan hal yang haram, mudah dipidana. Meski lagi-lagi sistem kita sedang tidak sehat,” ungkap Syahrul.

Sebelumnya, Saiful Mahdi divonis 3 bulan penjara dan denda Rp 10 juta. Saiful dieksekusi ke dalam bui usai upaya kasasinya ditolak Mahkamah Agung pada Juni lalu.

Kasus ini berawal dari kritikan Saiful Mahdi terhadap hasil tes CPNS untuk Dosen Fakultas Teknik pada akhir 2018 di Unsyiah, Banda Aceh.

Komentar tersebut disampaikan melalui grup WhatsApp, yang beranggotakan akademisi di Unsyiah pada Maret 2019. Tak terima, Dekan Fakultas Teknik Unsyiah, Taufik Saidi kemudian melaporkannya ke polisi.

Kritikan yang dimaksud, disampaikan Saiful pada Maret 2019 di grup WhatsApp ‘Unsyiah KITA’, berbunyi;

“Innalillahiwainnailaihirajiun. Dapat kabar duka matinya akal sehat dalam jajaran pimpinan FT Unsyiah saat tes PNS kemarin. Bukti determinisme teknik itu sangat mudah dikorup? Gong Xi Fat Cai!!! Kenapa ada fakultas yang pernah berjaya kemudian memble? Kenapa ada fakultas baru begitu membanggakan? Karena meritokrasi berlaku sejak rekrutmen hanya pada medioker atau yang terjerat “hutang” yang takut meritokrasi.”(/KumparanNEWS)