Ticker

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Hukumnya Bagi yang Membuat Fake Account di Media Sosial


Pertanyaan

Teman saya ada membuat fake account di Instagram. Fake account itu dibuat menggunakan nama karangan sendiri dan menggunakan salah satu foto selebgram Thailand. Tetapi di dalam fake account itu, teman saya tidak menggunakan infomasi formal atau non formal dari si selebgram itu, dan yang dia pakai hanyalah foto si selebgram itu saja. Nama dan informasi di dalam fake account itu hanya karangan sendiri. Tujuan teman saya membuat fake account itu hanya iseng aja. Cuma untuk ngerjain cowok-cowok yang kurang ajar. Tetapi dia, tidak ada niat sama sekali untuk menyalahgunakan, misalnya seperti meminta materi atau yang berbau merugikan. Tidak. Hanya sebatas iseng, kenalan. Tetapi ada 1 orang cowok yang diajak kenalan dengan fake account itu. Dan cowok itu terbawa perasaan suka. Pada akhirnya si cowok itu tahu kalau selama ini yang dia suka hanyalah fake account dengan foto selebgram orang Thailand. Cowok itu kecewa, patah hati. Lalu berniat ingin melaporkan ke polisi, masukin teman saya ke penjara. Pertanyaannya, apakah kasus seperti ini dikenai hukum pidana? Tetapi kan teman saya tidak merugikan materi sama sekali dan fake account itu tidak menyalahgunakan informasi yang aneh-aneh tentang selebgram Thailand itu. Informasi dan nama hanyalah karangan, dan yang dipakai hanyalah sebuah foto. Bagaimana ya? Mohon penjelasannya untuk teman saya. Terima kasih.

Ulasan Lengkap yang dikutip melalui HukumOnline
 
Pertama-tama perlu dijelaskan bahwa menurut hemat kami, yang menjadi korban bukan hanya laki-laki yang terbawa perasaan suka, tetapi juga selebgram Thailand yang fotonya digunakan.
 
Selanjutnya, mari kita lihat aturan dalam Pasal 2 Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (“UU ITE”) sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2016 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (“UU 19/2016”) sebagai berikut:

Undang-Undang ini berlaku untuk setiap Orang yang melakukan perbuatan hukum sebagaimana diatur dalam Undang-Undang ini, baik yang berada di wilayah hukum Indonesia maupun di luar wilayah hukum Indonesia, yang memiliki akibat hukum di wilayah hukum Indonesia dan/atau di luar wilayah hukum Indonesia dan merugikan kepentingan Indonesia.

Oleh karena perbuatan teman Anda dapat menimbulkan kerugian atau akibat hukum di wilayah Indonesia dan di luar wilayah hukum Indonesia (Thailand), maka UU ITE dan perubahannya dapat diterapkan.
 
Foto/Gambar sebagai Informasi Elektronik dan Dokumen Elektronik
Oleh karena perbuatan teman Anda hanya menggunakan foto dari selebgram Thailand tersebut, tetapi tidak mencakup identitas atau informasi lainnya, maka perlu dijelaskan terlebih dahulu apakah foto termasuk ke dalam Informasi Elektronik dan Dokumen Elektronik atau tidak.
 
Berdasarkan Pasal 1 angka 1 UU 19/2016, Informasi Elektronik didefinisikan sebagai berikut:

Informasi Elektronik adalah satu atau sekumpulan data elektronik, termasuk tetapi tidak terbatas pada tulisan, suara, gambar, peta, rancangan, foto, electronic data interchange (EDI), surat elektronik (electronic mail), telegram, teleks, telecopy atau sejenisnya, huruf, tanda, angka, Kode Akses, simbol, atau perforasi yang telah diolah yang memiliki arti atau dapat dipahami oleh orang yang mampu memahaminya.
 
Sementara itu, Pasal 1 angka 4 UU 19/2016 menjelaskan mengenai definisi dari Dokumen Elektronik sebagai berikut:

Dokumen Elektronik adalah setiap Informasi Elektronik yang dibuat, diteruskan, dikirimkan, diterima, atau disimpan dalam bentuk analog, digital, elektromagnetik, optikal, atau sejenisnya, yang dapat dilihat, ditampilkan, dan/atau didengar melalui Komputer atau Sistem Elektronik, termasuk tetapi tidak terbatas pada tulisan, suara, gambar, peta, rancangan, foto atau sejenisnya, huruf, tanda, angka, Kode Akses, simbol atau perforasi yang memiliki makna atau arti atau dapat dipahami oleh orang yang mampu memahaminya.

Dapat dipahami bahwa foto termasuk ke dalam Informasi Elektronik dan Dokumen Elektronik sebagaimana disebutkan dalam definisi di atas. Dalam hal ini, jika berbicara mengenai file foto yang digunakan oleh teman Anda, maka foto yang ditampilkan dari file tersebut ialah Informasi Elektronik, sedangkan Dokumen Elektronik dari file tersebut ialah jpg, atau png, atau dengan format lainnya.
 
Menggunakan Foto Orang Lain untuk Melakukan Manipulasi
Melihat perbuatan teman Anda menggunakan foto selebgram Thailand untuk memanipulasi dengan membuat fake account di Instagram, perlu dijabarkan ketentuan dalam Pasal 35 UU ITE sebagai berikut:

Setiap Orang dengan sengaja dan tanpa hak atau melawan hukum melakukan manipulasi, penciptaan, perubahan, penghilangan, pengrusakan Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik dengan tujuan agar Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik tersebut dianggap seolah-olah data yang otentik.

Sebagaimana dijelaskan oleh Josua Sitompul dalam artikel Hukuman Bagi Kejahatan Siber WNI yang Menggunakan Identitas WNA, tujuan pengaturan Pasal 35 UU ITE ialah menjaga dapat dipercayanya Informasi atau Dokumen Elektronik (reliability) khususnya dalam transaksi elektronik. Keautentikan mengindikasikan bahwa Informasi atau Dokumen Elektronik dapat dipercaya (reliable). Setidaknya ada dua hal yang harus diperhatikan dalam menentukan keautentikan suatu Informasi atau Dokumen Elektronik, yaitu sumber dan konten. Suatu informasi atau dokumen elektronik dikategorikan autentik apabila: (1) sumbernya berasal dari orang atau pihak yang memiliki hak atau kewenangan untuk mengeluarkan Informasi/Dokumen Elektronik yang dimaksud; dan (2) kontennya adalah konten yang dimaksudkan oleh sumber (Sitompul, 2012).

Dalam Pasal 35 UU ITE, autentik tidak hanya dimaksudkan pada data yang dibuat oleh atau di hadapan pejabat yang berwenang berdasarkan peraturan perundang-undangan, tetapi juga mencakup data milik perusahaan atau pribadi yang dibuat oleh mereka. Sedangkan yang dimaksud konten yang autentik ialah bahwa informasi atau data yang terdapat dalam Informasi atau Dokumen Elektronik ialah muatan yang dibuat, dikeluarkan, dipublikasikan, dikirimkan oleh sumber yang dimaksud (Sitompul, 2012).
 
Jika melihat Kamus Besar Bahasa Indonesia yang diakses melalui laman Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, manipulasi didefinisikan sebagai berikut:

upaya kelompok atau perseorangan untuk memengaruhi perilaku, sikap, dan pendapat orang lain tanpa orang itu menyadarinya.
Sanksi Pidana
Atas perbuatan di atas, teman Anda dapat dijerat dengan menggunakan Pasal 51 ayat (1) UU ITE berikut:
Setiap Orang yang memenuhi unsur sebagaimana dimaksud dalam Pasal 35 dipidana dengan pidana penjara paling lama 12 (dua belas) tahun dan/atau denda paling banyak Rp 12.000.000.000,00 (dua belas miliar rupiah).
Tentunya hukum bukanlah sekadar aturan belaka, namun diperlukan argumentasi dan pembuktian yang dilakukan di persidangan, serta pertimbangan hakim dalam menentukan apakah seseorang bersalah ataupun tidak.
 
Perlu diingat bahwa sanksi pidana merupakan senjata pamungkas (upaya terakhir) atau dikenal dengan istilah ultimum remedium. Oleh karena itu kami sarankan agar mengupayakan penyelesaian dengan cara kekeluargaan terlebih dahulu.

Melapor via Instagram
Selain penjelasan di atas, dengan sudut pandang Anda dan/atau laki-laki yang terbawa perasaan sebagai orang yang mengetahui bahwa teman Anda menyamar sebagai orang lain, Instagram juga memiliki aturan terkait dengan Akun Penyamaran, sebagai berikut:

Hanya orang yang ditiru yang dapat mengajukan laporan, tetapi Anda dapat:
  • Menghubungi orang yang ditiru melalui email atau telepon untuk menyarankan mereka melaporkannya kepada kami.
  • Mengirimkan pesan langsung kepada orang yang ditiru untuk menyarankannya melaporkannya kepada kami.
Ingat bahwa jika sebuah akun menyamar sebagai seseorang yang secara sah dapat Anda wakili (misalnya: anak Anda), Anda dapat melaporkan akun tersebut menggunakan formulir ini.

Itu artinya, si laki-laki dapat menghubungi selebgram Thailand (sebagai orang yang diambil fotonya) melalui email, telepon atau pesan langsung dan menyarankan selebgram tersebut agar melaporkan teman Anda ke pihak Instagram atas perbuatannya.
 
Demikian jawaban dari kami, semoga bermanfaat.