Ticker

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Long GAM



Long GAM

Penulis: Maulana Amri (Jurnalis)

Editor: Ridha 'Kuta'


Infoacehtimur.com - Bencana Pandemi Covid-19 yang melanda Dunia tak terkecuali Aceh, nyatanya membuat bahasa “Long GAM” kembali trend dijagad maya bahkan hingga mulut warga Aceh. Covid-19 membuat semua sektor terpojok tidak berdaya, entah itu ekonomi warga maupun kebijakan pemerintah.


Penduduk Aceh yang memiliki karakter keras kepala, Batat (bandel), beuho tungang (berani) seolah tidak menggubris persoalan, bukanlah sebuah hal yang aneh. Terbukti, dalam masa pandemi ini diketahui tingkat partisipasi masyarakat Aceh terhadap vaksinasi masih rendah dibandingkan daerah lainnya di Indonesia.


Terlihat hingga Presiden RI Jokowi pun harus turun tangan ke Aceh untuk mempercepat vaksinasi. Setali tiga uang dengan Presiden, Pemerintah Aceh yang terlihat mulai "kengkot" kebingungan akibat ketertinggalan tingkat vaksinasi di Tanah Rencong ini terpaksa harus “ganti target” sehingga Pelajar pun menjadi sasaran.


Penulis merasa khawatir dengan kalimat “Long GAM” yang kembali tren dimasyarakat. Long GAM muncul sebagai bentuk kesan rasa kecewa dan jurus terakhir untuk menyangkal "ancaman" dari “jarum suntik” vaksinasi. Kasus penyekatan Lhokseumawe, dan beberapa video protes lainnya merupakan sinyal yang menunjukkan kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah Aceh mulai pudar.


Padahal, sebelum menyusun teknis “serangan” vaksinasi, seyogyanya Pemerintah Aceh terlebih dahulu membangun kepercayaan publik terhadap vaksin itu sendiri. Dinamika ketidakpercayaan sebagian masyarakat ditingkat nasional seharusnya menjadi cerminan bagi Pemerintah Aceh bahwasanya ada masalah yang harus dibenahi pada tingkat kepercayaan masyarakat Aceh terhadap vaksin sehingga vaksinasi di Aceh tidak ketinggalan jauh dibanding daerah lain.


Jikapun tidak ada atau kurang sumber daya manusia (SDM) yang handal, silahkan Pemerintah Aceh libatkan saja konsultan Komunikasi yang handal.


Pemerintah Aceh sepatutnya sadar bahwa banyak hal yang harus dianalisa agar sosialisasi vaksin tidak menjadi literasi “Jurus ancam mengancam” dimata penduduk serambi mekah. Karena jika sosialisasi pemerintah melalui media terbaca sebagai ancaman dimata warga maka dipastikan itu bukanlah sosialisasi yang mebuahkan solusi untuk mempercepat tingkat vaksinasi dan memutuskan rantai penyebaran covid 19.


Watak keras pada masyarakat aceh tetu ada sisi lembutnya juga. Tidaklah lucu jika suasana keruh yang ditimbulkan dari proses penuntasan vaksinasi membuat ilkim perdamaian di aceh menjadi terganggu. Seluruh pihak mengetahui bahwa Iklim perdamaian Aceh saat ini masih kondusif walaupun kesejahteraan masyarakat belum merata maka suasana damai sangatlah itu perlu dijaga.

 

“Long GAM” yang dikhawatirkan oleh penulis dan sebagian besar pihak yang masuk dalam hipotesa itu bukanlah kekhawatiran yang liar tanpa alasan. Setiap insan yang hidup dibumi Serambi Mekkah ini tantu tidak ingin jika kalimat “Long GAM” menjadi sinyal "They Are Come Back" bagi pemangku keamanan negara.

 

Hal yang perlu dipahami oleh pemerintah aceh adalah rendahnya tingkat kepercayaan publik terhadap vaksin itu jangan sampai membuat perdamaian di Aceh menjadi “ambyar”. Dan, hal yang perlu dipahami oleh publik sipil Aceh adalah jangan sampai jarum suntik menjadi cangkul untuk mengorek lubang tanah yang ditanami AK-47.


Saat ini, yang perlu dibasmi adalah virus Covid-19, bukan watak keras penghuni bumi Tanah Rencong. Terhadap vaksinasi Covid-19, tantangan Pemerintah Aceh bukanlah watak keras bangsa aceh, melainkan opini publik yang harus dikontrol melalui komunikasi massa yang tepat agar kepercayaan masyarakat kepada Pemerintah Aceh era “Pak Nova” senantiasa dapat selalu terpelihara.