Ticker

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Memperingati Hari Sarjana Indonesia (HSI) Sembari Mengenang Sarjana Yang Mendominasi Angka Pengangguran Aceh

 


Infoacehtimur.com - 29 September merupakan Hari Sarjana Indonesia, mirisnya momentum 29 September menjadi hari yang tak memiliki perayaan sebagaimana sebagaiman hari besar lainnya, hari kemerdekaan atau hari buruh misalnya.


Paling banter, perayaan yang dilaksanakan pada Hari Sarjana Indonesia ialah pemberian penghargaan kepada insan akademis yang dinilai memiliki peran dalam pembangunan negri.


Penulis berpendapat bahwa akan lebih Afdhal jika Hari Sarjana Indonesia dijadikan momentum oleh para sarjana untuk melakukan evaluasi terkait kualitas pendidikan dan masa depan “manusia terdidik”.


Salah satu hal yang paling dekat dengan “urat fikir” para kaum “manusia terdidik” adalah “urat perut” setelah ia dididik.


Ya !, “lahan” yang menjadi tempat penerapan ilmu pengetahuan supaya bisa memperoleh pendapatan untuk bertahan hidup adalah hal paling pertama terlintas dalam benak lulusan sarjana. Disamping ia butuh tempat penuntas gairah pengabdian, ia juga butuh makan untuk mengimbangi energi dalam mengabdi bagi negri. Telah pasti, mengabdi bagi negri tidak hanya terbatas pada cita aparatur negara, manusia “lepas” pun memiliki cita tersebut.



Perihal evaluasi dalam momentum Hari Sarjana Indonesia dinilai penting karena hal utama yang menjadi tantangan para sarjana adalah pekerjaan, terlebih berkaca pada Revolusi Industri 4.0.


Aceh adalah provinsi yang telah terjangkau dalam hal pendidikan dibuktikan dengan adanya kampus yang bertebaran diwilayah tertentu. Kampus-kampus itu pun tak ayal menghasilkan ribuan sarjana “manusia terdidik” disetap akhir tahun ajaran.


Namun, warga aceh dibuat tercengang ketika Badan Pusat Statistik (BPS) Aceh membuka deretan angka seperti yang dilakukan pada Februari tahun lalu (2020).


Data BPS menunjukkan hingga Februari 2020 terhitung jumlah pengangguran di daerah yang dinobatkan sebagai Provinsi Termiskin se-Sumatera ini mencapai 136 ribu jiwa.



Kasus pengangguran di “taoeh aulia” ini kembali melintasi benak sarjana ketika tanggal 29 September tiba karena BPS juga membeberkan bahwa penyumbang angka pengangguran paling banyak berdasarkan tingkat pendidikan adalah lulusan perguruan tinggu. Sarjana.


Membaca Republika pada Selasa (5/5), Kepala BPS Aceh Ihsanurijal mengungkapkan pada Februari 2020 terdapat 136.000 orang menganggur dan sebanyak 2.374 orang adalah penduduk bekerja.


"Dilihat dari tingkat pendidikan, Tingkat Pengagguran Terbuka (TPT) untuk (lulusan) tingkat universitas (ialah) tertinggi diantara tingkat pendidikan lain, yaitu sebesar 8,30 persen,” kata Kepala BPS Aceh Ihsanurijal.


Berdasarkan persentase itu dapat kita ketahui bahwa sejumlah 11.288 orang Sarjana yang dapat disebut sebagai “manusia terdidik” adalah pengangguran.

Terpaut jauh dengan angka 8,30 persen pengangguran lulusan perguruan tinggi, tingkat pengguran pada lususan SD hanya 1,91 persen.


Angka tersebut jelas menunjukkan bahwa “manusia terdidik” di perguruan tinggi/kampus kekurangan lapangan pekerjaan sebagai tempat menyalurkan pengetahuan dan kemampuannya.


Diketahui lapangan pekerjaan yang mengalami peningkatan adalah sektor jasa ktranspoortasi, kesejatan, pergudangan, dan penyediaan makanan minuman. Sayangnya, sektor yang dinilai mengalami “kenaikan” itu pun meningkat tak lebih dari 1 persen.


Sudah sepatutnya Pemerintah di provinsi Termiskin se-Sumatera berturut-turut 2020 dan 2021 ini menghadirkan lapangan pekerjaan sebagaimana “penggali sumur” Hulu Migas menghadirkan industri di tingkat Hilir Migas.


Kemampuan Pemerintah Aceh menghadirkan industri untuk menyerap sarjana “manusia terdidik” Aceh adalah bahkan menjadi bentuk antisipasi supaya Provinsi Termiskin se-Sumatera tidak bertambah gelar sebagai daerah terbanyak Sarjana “terbengkalai”.


Ditulis oleh:

'Kuta' (Seorang Sarjana Yang Berkecukupan)