Ticker

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Pelecehan Seksual 26 Santri 'Bikin Greget' Baleg DPR Supaya RUU Kekerasan Seksual 'Dipalukan'

 

Infoacehtimur.com - Kasus pelecehan seksual yang dialami oleh puluhan anak dibawah umur membuat 'berang' warga seantero indonesia. Pasalnya kasus pelecahan tersebut dilakukan oleh seorang Guru terhadap 26 santri disebuah pondok pesantren.


Kasus ini menyorot perhatian Badan Legislasi (Baleg) DPR Takufik Basari. Taufik Basari pada Jumat (24/9) mengaku "greget" terhadap pelaku pelecehan seksual sodom itu karena korbannya mencapai 26 santri dan semuanya adalah anak di bawah umur.


"Inilah mengapa RUU Tindak Pidana Kekerasan Seksual (TPKS) ini perlu disahkan. Karena kekerasan seksual kadang terjadi di dalam orang terdekat, karena itu harus dibangun kesadaran untuk melakukan pencegahan sekaligus mekanisme perlindungan kepada korban," ujar Taufik Basari pada Jumat (24/9) dalam keterangan tertulis.


Kronologis Kasus

Bermula dari seorang santri yang mengeluh kepada orang tuanya karena mengalami rasa sakit dibagian kemaluan kemudian oleh orang tua membawa anaknya ke dokter untuk dilakukan pemeriksaan.


Hasil diagnosa dokter mengungkap bahwa anak yang nyantri disebuah pondok pesantren itu telah menjadi korban kekerasan seksual.


Setelah memperoleh keterangan dokter, lantas sang anak mengaku kepada orang tuanya bahwa ia pernah dipaksa melakukan tindakan asusiala oleh seseorang berinisial JN (22) dipondok pesantren tempat ia menuntut ilmu agama. 


Tak terima anaknya mendapat perlakuan tak senonoh, orang tua murid melaporkan tindakan JN (22) ke pihak kepolisian.



Menindaklanjuti laporan tersebut, Polda Sumatera Selatan (Sumsel) memeriksa JN (22) dan beberapa orang saksi untuk dimintai keterangan.


Pemeriksaan Polisi membuahkan hasil bahwa JN (22) yang berstatus Guru di pesantren yang berlokasi di Ogan Ilir, Sumsel itu telah melancarkan aksi pencabulan terhadap 12 orang murid yang masih dibawah umur. Dari ke 12 (dua belas) murid tersebut masing - masing 6 orang disodomi dan 6 diperlakukan secara cabul oleh tersangka J (22).


Melansir Medcom.id, Mirada, salah satu guru pondok pesantren tersebut, dalam keterangannya menjelaskan bahwa JN (22) juga mengajar, disamping menjadi pendamping anak-anak asrama. 


“Kalau kami kan mengajar dari jam 08.00 WIB sampai sore. Dia mengajar sekali dua kali, enggak banyak,” kata Miradadalam wawancara bersama Metro Tv. 


Polda Sumsel menetapkan JN (22) sebagai tersangka tindak pidana pencabulan pasa Rabu (15/9).

Tak berhenti disitu, Polda Sumsel membuat posko aduan untuk kasus kekerasan seksual yang diduga dilakukan oleh guru pesantren berinisial JN itu.


Selang satu hari, kasus semakin terkuak dan orang tua dari anak yang melapor ke posko Polda Sumsel semakin bertambah. Walhasil, hingga Kamis (16/9) teedapat 26 korban yang telah melaporkan ke posko aduan.


"Benar kami terima aduan kembali hari ini, jadi saat ini total korban ada 26 orang anak (santri)," kata Direskrimum Polda Sumsel Kombes Hisar Sialagan, mengutip Antara.


Modus aksi diketahui JN mengiming-imingi uang kepada korban dengan junlah puluhan ribu Rupiah. Mengutip Asumsi.co, Korban yang menolak menerima uang diancam enganiayaan olek tersangka dengan ancaman akan dikurung digudang dan ancaman kekerasan lainnya.


Polda Sumsel turut memeriksa kondisi kejiwaan guru inisial JN (22) disebabkan pengakuan tersangka melakukan tidakan sodom tersebut atas dasar demi memperoleh kepuasan semata.


Atas perbuatan pedofilia itu tersangka JN (22) dikenakan Pasal 82 ayat 1, 2 dan 4 jo Pasal 76 UU RI No. 17 Tahun 2016, Perppu No. 1 Tahun 2016 tentang Perubahan Kedua atas UU No. 23 Tahun 2003 tentang Perlindungan Anak dengan ancaman pidana maksimal 15 tahun penjara.