Ticker

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

HMI Aceh Timur Desak Pemerintah Perbaiki Jembatan Menuju MONISA




Infoacehtimur.com / Peureulak - Himpunan Mahasiswa Islam Majelis Penyelamat Organisasi (HMI-MPO) Cabang Aceh Timur meminta Pemkab Aceh Timur, untuk memperbaiki jembatan menuju ke Makam Sultan Alaidin Said Maulana Abdul Azzis Syah, yang kondisinya saat ini rusak parah.

Jembatan rusak terletak di Dusun Bandar Khalifah, Desa Bandrong, yang juga menghubungkan dengan Desa Paya Meuligoe, Kecamatan Peureulak, Aceh Timur.

Permintaan itu disampaikan oleh Ketua Umum HMI cabang Aceh Timur, Hidayatul Mustaqim, karena sebelumnya mereka yang menggunakan kendaraan roda empat mengantarkan bantuan Al-Qur'an ke Dayah Monisa yang berada di kompleks makam kesulitan melintasi jembatan.

Hal yang sama juga dirasakan oleh masyarakat setempat untuk menggunakan jembatan itu.




Karena, lantai jembatan yang terbuat dari kayu sudah rapuh, dan patah-patah, sehingga sulit dilintasi baik roda dua maupun roda empat.

Sedangkan, leger jembatan yang terbuat dari balok besi tampak masih bagus.

"Karena itu, kami mendesak Pemkab Aceh Timur, untuk memperbaiki jembatan ini. Karena jembatan ini selain menuju ke Makam Sultan Alaidin Said Maulana Abdul Azzis Syah, juga menghubungkan dengan Desa Paya Meuligoe," ungkap Mustaqim.

Mustaqim, mengatakan, seharusnya jalan dan jembatan menuju ke Makam Sultan Alaidin Said Maulana Abdul Azzis Syah, menjadi perhatian serius pemerintah setempat.

Karena makam Sultan tersebut, merupakan bukti sejarah pertama kali masuknya islam ke Asia Tenggara.

Untuk diketahui, jelas Mustaqim, Makam Sultan alaidin Said Maulana Abdul Azzis Syah adalah Monumen Islam Asia Tenggara atau yang dikenal dengan sebutan Monisa yang dibangun sekitar tahun 1980-an tapi kondisinya saat ini terbengkalai.

Padahal Monisa ini juga merupakan bukti sejarah Kesultanan Peureulak yang melahirkan silsilah 10 atau 19 raja-raja yang pernah memerintah di Kerajaan Peureulak.

"Kita berharap, monumen yang menjadi asal muasal masuknya Islam ke Nusantara, menjadi kebanggaan masyarakat, Aceh dan menjadi perhatian semua pihak untuk merawat dan melestarikannya.

Karena situs ini menjadi bukti sejarah pertama kali masuknya islam ke Asia Tenggara," harap Mustaqim. (*)